Kebangkitan Nasional dan Pilpres

BowoHatta11-e1400496228971 jokowi

Hari Senin, 19 Mei 2014 rakyat Indonesia disuguhi pertunjukkan yang sangat menarik. Melalui siaran langsung TV swasta nasional, informasi tersebut dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia. Dua peristiwa terjadi hampir bersamaan yang akan mengubah arah perjalanan bangsa ke depan, “Deklarasi Capres – Cawapres 2014”.

Pertama, Joko Widodo dan Jusuf Kalla mendeklarasikan diri sebagai pasangan calon untuk Pemilu Presiden 2014. Pasangan ini diusung oleh PDI-P bersama Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura.

Kedua, pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa juga mendeklarasikan diri untuk maju dalam pemilihan presiden 2014. Pasangan ini didukung enam parpol, yakni Partai Gerindra, PAN, PPP, PKS, Partai Golkar dan PBB.

Apapun pilihan kita, kedua pasangan itulah yang pada Pilpres tanggal 9 Juli 2014 nanti akan dipilih oleh rakyat Indonesia untuk memimpin negara ini selama lima tahun ke depan. Salah satu pasangan, akan menjadi pemimpin tertinggi yang akan melahirkan keputusan-keputusan penting bagi bangsa ini.

Kita berharap, agar siapapun yang nantinya akan menjadi presiden dan wakilnya, mampu membawa “Indonesia Raya” menuju “Indonesia Hebat”. Ini tentu saja sangat berkaitan erat dengan hari ini, tanggal 20 Mei 2014 yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Makna Kebangkitan Nasional tidak lepas dari masa-masa bangsa Indonesia terkungkung dalam cengkeraman penjajahan. Di mana, saat itu kesadaran sebagai suatu bangsa sedang ditumbuhkan oleh anak-anak muda yang terpelajar.

Merekalah yang menggelorakan suara persatuan dan kesatuan bangsa yang harus terwujud dengan kemerdekaan. Melalui pergulatan pemikiran yang panjang, perjuangan intelektualitas mengurucut dan mengubah Hindia Belanda menjadi Indonesia.

Semangat juang yang tinggi dari anak-anak muda inilah yang kemudian hari membawa berkah bagi bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan penuh pengorbanan –harta, jiwa dan raga– anak-anak bangsa harus dihargai dengan semestinya. Caranya, mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif demi kepentingan bangsa, kesejahteraan rakyat dan kemandirian Indonesia.

Titik tolak perjuangan kemerdekaan itu sendiri, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Yaitu peristiwa bangkitnya semangat kesatuan persatuan, kesatuan dan nasionalisme diikuti dengan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Selama masa penjajahan semangat kebangkitan nasional tidak pernah muncul hingga berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Berikut ini kisah selengkapnya tentang Hari Kebangkitan Nasional. Selamat menyimak………….

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Organisasi Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji serta digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo pada awalnya bukan organisasi politik, tetapi lebih kepada organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Namun seiring waktu Boedi Oetomo kemudian menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia.

Kongres pertama Boedi Oetomo diselenggarakan tanggal 3 – 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Saat itu organisasi Boedi Oetomo telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota yaitu Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres pertamanya ini Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) yang berasal dari kaum priyayi diangkat sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Dan sejak itu banyak anggota baru yang berasal dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo, namun hal ini justru membuat anggota dari kalangan pemuda memilih keluar dari organisasi ini.

Organisasi Boedi Oetomo sendiri dalam perjalanan sejarahnya mengalami beberapa kali pergantian pimpinan dan sebagian besar berasal dari kalangan bangsawan seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo mantan Bupati Karanganyar yang menjadi presiden pertama Budi Utomo dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

Berturut-turut setelah Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908 diikuti berdirinya Partai Politik pertama di Indonesia Indische Partij pada tahun 1912, kemudian pada tahun yang sama Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta, Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang.

Karena dianggap sebagai organisasi yang menjadi pelopor bagi organisasi kebangsaan lainnya sebagaimana disebutkan di atas, maka tanggal kelahiran Boedi Oetomo yaitu 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

http://www.infonews.web.id/2013/04/sejarah-hari-kebangkitan-nasional-20-mei.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s