Doa Untuk Aceh

Segenap karyawan dan crew PT Sembilan Bersama Media menyampaikan dukacita sedalam-dalamnya bagi para korban gempa di Aceh, Selasa 2 Juli 2013. Teriring doa agar mereka yang dipanggil Tuhan akibat bencana tersebut diterima disisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Amin……

IMG_2103

Informasi tentang gempa, dapat diperoleh disini.

UJANG bersama dua rekan kerjanya sedang menurunkan kopi dari mobil ketika tiba-tiba bumi bergetar hebat. Tanah tempatnya berdiri seperti keluar masuk dengan hentakan vertikal.

“Goyangan gempanya bukan ke samping, tapi menghentak ke atas dan ke bawah,” kata pria bernama lengkap Khairul Bahri itu.

Ujang adalah pedagang pengumpul kopi di Bener Meriah. Saat gempa terjadi pada Selasa siang, 2 Juli 2013, ia  sedang mengantar kopi pesanan Koperasi Tunas Indah di Kampung Nosar. Kampung ini berjarak 30 kilometer dari rumahnya di Bandar Baru, Kecamatan Bandar, Bener Meriah.

Ingatan Ujang melayang ke nasib empat anak dan istrinya. Ia khawatir terjadi sesuatu terhadap mereka. Berkali-kali ia mencoba menghubungi istrinya lewat telepon selular. Namun gagal. Saluran komunikasi terputus. Ia cemas. Sebab rumahnya berada di tebing bukit. Bermacam pikiran melintas di benaknya.

Ujang lantas berbalik arah. Ia menginjak pedal, memacu mobil kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan ia melihat banyak bangunan yang rumah. Ujang kian gelisah. Tiba di kampungnya, Alhamdulillah, ia menemukan istri dan keempat buah hatinya selamat. Hanya rumahnya yang sedikit rusak.

“Suasananya kacau sekali. Bagaimana kejadian tsunami begitulah kira-kira yang terjadi di sini,” kata Ujang.

Ia pun lalu bergabung dengan sejumlah warga lain mencari tahu informasi tentang perkembangan gempa.

Beberapa jam setelah gempa, sebuah pesan singkat masuk ke telepon selular Ujang. Isinya, mengabarkan ada potensi Gunung Burni Telong di Bener Meriah akan meletus setelah gempa. Rupanya pesan berantai itu tak hanya mampir ke telepon Ujang, tapi juga ke banyak warga lain. Mereka pun kembali panik.

“Malam harinya ada saudara-saudara kita dari Kecamatan Bukit sampai Kecamatan Wih Pesam lari ke Bandar yang dianggap relatif lebih aman,” kata Ujang.

Malam itu, sebagian besar warga memilih tidur di luar rumah. Gempa susulan yang sempat muncul beberapa kali, membuat warga khawatir. Mereka memilih membakar api unggun di pinggir trotoar.

***
Gempa tak hanya mengguncang Bener Meriah, namun juga merontokkan sejumlah bangunan di kabupaten sebelahnya, Aceh Tengah. Dua kabupaten ini adalah kawasan terdekat dengan titik gempa.

Hingga Rabu siang, tercatat 31 orang meninggal karena gempa: 14 warga Bener Meriah, dan 17 warga Aceh Tengah.  Wakil Bupati Bener Meriah Rusli M. Saleh mengatakan  siang tadi sekitar pukul satu siang, ditemukan dua korban meninggal di reruntuhan longsor Kecamatan Wih Pesam.

Sedangkan Wakil Bupati Aceh Tengah, Khairul Asmara mengatakan, selain 17 korban meninggal, hingga Rabu siang masih ada 15 warga yang dinyatakan hilang. Rinciannya, 6 warga Kampung Bah, Kecamatan Ketol, dan 9 warga Kampung Serempan di kecamatan yang sama.

“Korban meninggal berdasarkan data yang dihimpun di beberapa lokasi gempa terparah yakni Kecamatan Ketol dan Kutepang,” kata Khairul kepada ATJEHPOSTcom.

Kecamatan Ketol memiliki kampung diantara Bah, Belang Mancung, Bintang Pepara, Burlah, Butter, Cang Duri, Gelumpang paying, Kala Ketol, karang Ampar, Kekuyang, Kute Gelime, Pantan Penyi, Pantan Reduk, Pondok Bali, Rejewali, dan Serempah.

Kampung Bah dan Serempah merupakan dua kampung yang terisolasi usai gempa. Siang tadi, tim Brimob Polda Aceh bersama Basarnas Banda Aceh sudah memasuki Serempah, Namun belum ada kabar dari Kampung Bah. Hingga tadi malam, di desa ini ada ratusan warga terkurung tidak bisa keluar karena jalanan tertutup longsor.

Selain korban tewas, ratusan lainnya harus dirawat di rumah sakit karena luka-luka. Rumah Sakit Umum Datu Beru di Takengon, ibukota Aceh Tengah, tiba-tiba berlimpah pasien. Mereka umumnya mengalami patah tulang dan luka-luka.

Sayangnya, rumah sakit itu juga terkena dampak gempa. Akibatnya, pelayanan tak maksimal. Gempa susulan yang terjadi tiba-tiba juga membuat kondisi kian amburadul. Selain itu, listrik yang mati dan saluran komunikasi yang terganggu juga menambah runyam.

Hingga sehari sesudah gempa, pada Rabu siang, pasien di RS Datu Beru harus dirawat di lorong-lorong rumah sakit. Mereka khawatir gempa susulan sewaktu-waktu kembali mengguncang.

***
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, gempa yang terjadi pukul 14:37 itu adalah jenis gempa darat. Meski “hanya” berkekuatan 6,2 SR, gempa itu menimbulkan kerusakan karena kedalamannya hanya 10 kilometer di bawah permukaan bumi.

Gempa darat berbeda dengan gempa yang terjadi saat gempa dan tsunami menewaskan ratusan ribu orang pada 26 Desember 2004.  Gempa di dataran tinggi Gayo ini, serupa dengan yang terjadi di Mane, Tangse, awal Januari lalu.

Peneliti Geo Hazard Tsunami & Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah, Ibnu Rusdy mengatakan, saat tsunami gempanya bersumber di laut. Sedangkan yang terjadi di Tangse dan Bener Meriah bersumber di darat dan berada di segmen Aceh dari Sesar Sumatera.

Untuk kawasan Aceh, kata Ibnu, terdapat tiga segmen sesar Sumatera, diantaranya Segmen Tripa, Segmen Aceh, dan Segmen Seulimum.

Menurut Ibnu, sejak 1892 telah terjadi 23 kali gempa darat atau sesar di atas 6Mw di sepanjang Sesar Sumatera. Pada segmen Seulimum, kata Ibnu, pernah terjadi gempa pada 1964 dan 1975. Sedangkan untuk segmen Aceh, kata dia, sangat jarang terjadi.

Ketika terjadi gempa Tangse awal Januari lalu, Ibnu mengatakan,” di sepanjang Sesar Sumatera saat ini ada beberapa seismic gap atau kawasan yang jarang terjadi gempa yang harus diwaspadai bersama. Untuk segmen Aceh tidak pernah terjadinya gempa ini harus kita waspadai karena pada segmen ini ada energi yang belum lepas,” kata Ibnu yang menyandang gelar Magister of Science.

***
Dari Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan instansi terkait untuk mengupayakan penyelamatan korban gempa.

“Doa kita utk rakyat Aceh. Kemarin saya sudah instruksikan BNPB & aparat terkait untuk laksanakan upaya penyelamatan thd korban gempa. *SBY*,” tulis Presiden SBY di akun twitternya, Rabu, 3 Juli 2013.

Presiden juga menyampaikan satu helikopter TNI AU yang semula dipakai untuk operasi asap di Pekanbaru, telah dialihkan ke Aceh untuk keperlukan penanggulangan bencana.

Tiga menteri juga bergerak menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah. Mereka adalah Menkokesra Agung Laksono, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, dan Menteri PU Djoko Kirmanto. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Syamsul Maarif juga ikut serta.

Dari ibukota provinsi yang berjarak sekitar tujuh jam perjalanan dengan mobil, Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan sejumlah pimpinan DPR  Aceh juga berkunjung Bener Meriah dan Aceh Tenga. Gubernur menetapkan status darurat kemanusiaan, meminta aparatur pemerintah bahu-membahu membantu korban gempa.

http://atjehpost.com/saleum_read/2013/07/03/57894/83/3/Gempa-Aceh-Nestapa-di-Ladang-Kopi#sthash.yEFnHtWw.dpuf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s