Mengenali Pesaing

Persaingan dalam bisnis adalah sebuah hal yang sangat biasa terjadi. Mengingat perkembangan pasar yang relative stabil tetapi digelontor oleh produk dan jasa yang terus bermunculan. Banyak produk dan jasa yang ditawarkan memiliki kemiripan hampir serupa terhadap produk dan jasa yang telah lama beredar di pasaran.

Tentu, ini menjadi kendala besar bagi seseorang yang baru saja memulai dalam bisnis. Karena dia harus langsung berhadapan dengan para “pemain lama” yang sudah berpengalaman, menguasai pasar dan malang melintang di bisnis. Tantangan terbesar tidak hanya terletak bagaimana bisa menyusup dan “mencuri kue” di pasar yang sama, tetapi juga menghadapi kekuasaan pemain lama tersebut.

Sementara, bagi pengusaha yang sudah lama berkecimpung dalam bisnis, ancaman dari pemain baru juga cukup memusingkan. Karena, bagamainapun perusahaan yang menawarkan produk atau jasa yang sama, sedikit banyak akan menggerus dan berusaha menggaet pelanggan yang sudah dimiliki selama ini. Apalagi, ketika tawaran lebih menggiurkan diberikan perusahaan baru dalam rangka menarik pelanggan sebagai sarana promosi.

Nah, pertanyaannya, benarkah kehadiran kompetitor di bidang usaha yang sama akan “mematikan” perusahaan? Apakah “pertarungan” melawan kompetitor itu harus menjadi prioritas utama dalam mempertahankan bisnis kita?

Mungkin, tukang sate Madura yang sering lewat di depan rumah memiliki jawaban yang tepat. Setiap Lebaran, dia pulang kampung dan mengajak rekannya untuk berjualan sate juga. Apakah dia takut pendapatannya berkurang karena ada penjual sate lain bersaing dengannya? Ternyata tidak. Baginya, barang dagangan boleh sama, tetapi rezeki memiliki bagian masing-masing.

Jawaban yang lebih “ilmiah” dalam menyikapi persaingan diberikan oleh Elisha Tan, Founder Learnemy, startup dari Singapura yang merupakan “marketplace kursus” (benchmark : Skillshare). Saat usahanya menjadi perbincangan karena munculnya pesaing dengan line business yang sama, ia memberikan jawaban yang brilian. Berikut ini tulisan Elisha Tan, selamat menyimak.

Editor’s note : Ini adalah tulisan dari Elisha Tan, Founder Learnemy, startup dari Singapura yang merupakan “marketplace kursus” (benchmark : Skillshare) di mana tak lama setelah ia melaunch Learnemy, muncul kompetitor baru, Kezaar.com dengan tim founder yang lebih banyak dan memiliki pengalaman industri yang panjang. Tak lama kemudian,  Willis Wee dari Techinasia menulis “Hello Learnemy, Kezaar is your competitor, now fight !” yang secara langsung membandingkan Learnemy Vs Kezaar, lengkap dengan gambar kucing sedang berkelahi. Elisha Tan founder Learnemy menghadapi situasi ini memberikan respon yang membuat kita kembali memikirkan “siapa sebenarnya kompetitor kita ?”.  Respon ini sangat brilian sehingga kami memutuskan memuatnya di Startupbisnis. 

Sebagai informasi untuk Anda, tech startup scene di Singapura memiliki banyak perbedaan dengan Indonesia, salah satunya startup Singapura sejak awal harus mentarget dunia karena marketnya yang kecil, penetrasi internet dan smartphone di Singapura juga sangat tinggi. Orang-orang Singapura juga populer disebut memiliki “kiasu mentality” yang sejak kecil dididik memiliki sifat pantang menyerah dan competitive yang sangat tinggi. (ed)

Tulisan Elisha Tan

Saya membaca artikel dari Willis Wee beberapa minggu lalu dan artikel itu membuat saya berpikir tentang ‘bertarung’ dengan kompetitor.

Apakah saya, sebagai sebuah startup, benar-benar ingin bertarung dengan kompetitor saya seperti Kezaar?

Tidak.

Karena saya memilih pertarungan-pertarungan saya dan memiliki sesuatu yang lebih besar untuk diperjuangkan.

1. Bertarung Melawan Status quo

Saya suka kemenangan. Tapi saya tidak memulai startup hanya untuk bisa membuktikan pada diri sendiri dan orang lain bahwa saya bisa menang dalam lingkungan startup. Saya mendirikan Learnemy karena saya percaya bahwa orang-orang pasti bisa menjalani dan membiayai hidup dengan melakukan apa yang mereka sukai.

Saya percaya bahwa ada perbedaan antara ‘being alive’ dan ‘living’. Di Singapura, kami sangat beruntung karena memiliki tempat tinggal, makanan, dan keamanan, tapi seberapa banyak dari kita yang benar-benar hidup? Saya mengerti bahwa hal tersebut sulit dicapai karena di Singapura banyak passion yang dipasangkan dengan karir yang “tidak ada masa depan”.

Saya bertarung melawan status quo ini dengan memungkinkan orang-orang untuk mampu membiayai hidup dengan mengajarkan ilmu pada mereka. Saya bertarung untuk sesuatu yang saya percayai. Anda bisa membaca lebih banyak tentang alasan kenapa saya memulai Learnemy dalam blog post ini.

2. Bertarung melawan kondisi di mana Anda tidak dikenal publik

‘Setan’ terbesar yang dilawan oleh semua startup bukanlah kompetitor, melainkan kondisi tidak dikenal. Anda bisa saja menjadi yang pertama dalam sebuah pasar, atau satu-satunya dalam pasar tersebut, dan akan tetap gagal jika tidak ada yang peduli dengan produk Anda. Faktanya, kompetisi adalah validasi bahwa Anda tidak bodoh (atau bukan satu-satunya yang bodoh). Jika Anda sendirian dalam sebuah pesta, maka mungkin Anda berada di tempat yang salah.

Inilah alasan kenapa Anda harus menemukan kecocokan antara produk dan market (product market fit). Bagaimana Anda membuat target pasar Anda peduli pada Anda? Bagaimana caranya agar Anda tidak terlupakan oleh mereka? Banyak startup yang mati dalam proses berusaha menemukan kecocokan itu. Sebagai startup yang masih baru, seperti Learnemy dan Kezaar, kami lebih peduli untuk bertarung demi tetap survive, dan melawan kondisi tidak dikenal, daripada bertarung satu sama lain.

3. Bertarung melawan diri sendiri

Saya mengetahui tentang Kezaar sebelum artikel tersebut. Saya mengetahui bahwa ada beberapa perusahaan serupa sebelum saya memulai. Mungkin ada lebih banyak perusahaan yang harus saya ‘pukul’ dibandingkan kemampuan memukul saya. Tapi tidak ada yang sebanding dengan ‘pertarungan internal’ dengan diri saya sendiri.

Saya memulai Learnemy beberapa bulan setelah lulus kuliah sebagai founder solo dan non-teknikal. Saya tidak memiliki tim, tidak bisa menulis kode dengan lancar, dan baru merilis versi beta setelah tahun pertama. Saya bukan veteran dalam dunia startup, atau veteran dalam industri apapun seperti tim yang ada di balik Kezaar. Keberuntungan tidak ada di pihak saya, tapi perbedaan besar ini tidak menggangu saya dibanding fakta bahwa saya mengetahui seberapa banyak lagi yang bisa dikerjakan tapi belum saya lakukan.

Saya bukannya mengutuk diri sendiri, saya bangga pada asal dan hal-hal yang sudah saya pelajari. Tapi sekaligus menyadari dengan jelas bahwa banyak yang masih bisa dikembangkan. Jika ada sebuah daftar yang harus saya lawan, maka kompetitor ada di urutan paling bawah. Faktanya, saya malah mengagumi para kompetitor. Tidaklah mudah untuk membuat bisnis marketplace, apalagi yang sukses. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka.

sumber: http://startupbisnis.com/sebenarnya-siapa-yang-anda-lawan-sebagai-sebuah-startup-mungkin-bukan-kompetitor/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s