Rencana Sukses Dalam Membangun Bisnis

Setiap orang memiliki rencana untuk masa depannya masing-masing. Cita-cita adalah salah satu bentuk bayangan ideal di masa mendatang. Ini bahkan sudah dimiliki orang sejak masih kecil yang sekaligus menjadi harapan orang tuanya.

Jamak kita dengar anak kecil yang memiliki cita-cita untuk menjadi dokter, insinyur, pilot dan beragam profesi lainnya. Intinya, sejak kecil anak-anak sudah ditanamkan untuk meraih cita-cita dan kesuksesan dalam hidup, bukan untuk menggapai kegagalan.

Meskipun dalam perjalanan hidup impian sukses belum tentu tercapai, namun “rencana” untuk mencapai sukses sudah ada dalam benak setiap orang. Tinggal, bagaimana upaya mencapainya yang berbeda-beda. Ada yang bersungguh-sungguh sehingga benar-benar meraih puncak kesuksesan, tetapi ada juga yang hidup tidak jauh dari yang diinginkannya.

Hal serupa juga terjadi dalam dunia usaha. Seorang entrepreneur yang baru memulai usaha harus memiliki “rencana sukses”. Ini menjadi sebuah mimpi besar dalam membangun usaha, yakni tidak hanya sekadar bertahan dan memenangkan persaiangan, tetapi juga sukses.

Semua itu, tidak lepas dari perencanaan yang telah dibuat. Beberapa planning pemilik usaha, seringkali tidak mencantumkan dengan jelas rencana sukses ini. Seringkali, seorang entrepreneur banyak memperhitungkan segala tetek bengek tentang bisnis sampai hal terkecil, namun tidak pernah memikirkan “seandainya” bisnisnya menjadi besar dan sukses.

Jadi sementara hal-hal terburuk sudah diperhitungkan dengan masak, kondisi terbaik yang bisa dicapai tidak pernah terlintas dalam pikiran. Akibatnya, ketika kesuksesan benar-benar teraih dan usaha menjadi besar, entrepreneur bisa menjalani kehidupan yang tidak terkendali. Hasil jerih payah usaha yang telah dibangun, bisa-bisa habis untuk membiayai gaya hidup yang dianut.

Akibatnya bisa sangat fatal. Tanpa perencanaan sukses, bisnis justru menukik tajam menuju kebangkrutan. Padahal, melalui rencana sukses yang matang, pada saat mencapai puncak kesuksesan bisa melahirkan usaha baru. Dari usaha yang dirintis akan terus berkembang dan bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Untuk mencegah jangan sampai hal tersebut terjadi pada bisnis Anda, beberapa faktor mendasar berikut ini bisa menjadi pertimbangan. Faktor-faktor tersebut sedikit banyak dapat menyebabkan seseorang menjalani hidup tanpa perencanaan.

Faktor pertama adalah tidak adanya keluarga atau figur yang diteladani. Apabila seseorang melihat ayah, ibu dan saudara-saudaranya hanya sekadar menjalani hidup tanpa pernah membuat perencanaan. Orang tersebut akan terkondisikan hanya menjalani hidup biasa-biasa saja seperti yang dijalani orang tua dan saudara-saudaranya.

Tetapi ketika orang tersebut memiliki orangtua atau saudata yang mempunyai perencanaan dengan matang dan rapi, nuansa berbeda akan didapat. Dengan sendirinya dia akan mulai membuat perencanaan untuk memastikan agar perkembangan yang diharapkan dapat tercapai di waktu-waktu mendatang.

Faktor kedua adalah komunitas (orang-orang yang memberi pengaruh di sekitar kita). Jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang hanya menjalani hidup belaka, tanpa disadari pola pikir, filosofi dan cara hidup dari orang-orang di sekelilingnya biasanya akan mulai mempengaruhi orang yang bersangkutan.

Itu sebabnya, sangat penting untuk memperhatikan dengan siapa kita bergaul, karena jika kita sungguh-sungguh ingin meraih kesuksesan, perencanaan adalah sesuatu yang sifatnya wajib. Apabila kita rela bersusah-payah membangun dan merencanakan hidup kita pada saat ini, di kemudian hari kita justru akan menikmati seluruh usaha dan kerja keras. Karena itu, pastikan Anda terus belajar untuk membuat perencanaan dalam setiap aspek kehidupan dengan teratur dan rapi. Anda tidak akan pernah menyesali rancangan tersebut.

Faktor ketiga adalah faktor mentalitas. Mereka yang memiliki keluarga atau bergaul dengan orang-orang yang hanya sekedar menjalani hidup, tanpa sadar akan memiliki konsep pikir, pola hidup, filosofi dan mentalitas sebagai seorang survivor belaka. Dengan kata lain, keinginan dan mentalitas untuk meraih sesuatu tidak ada lagi dalam diri mereka. Orang-orang seperti ini tidak akan bisa hidup di tengah tekanan dan berbagai tantangan.

Orang seperti ini biasanya mudah sekali menjadi down, karena -di sisi lain- tidak ada orang yang tidak ingin menjadi lebih baik. Masalahnya, menjadi lebih baik dalam hidup ini tidak akan terjadi dalam sekejap mata. Dibutuhkan usaha, disiplin diri, kerja keras serta perencanaan yang harus dijalani dengan baik dan konsisten.

Faktor keempat adalah kondisi hati, faktor ini merupakan yang sangat penting. Bagi orang-orang tertentu yang pernah membuat perencanaan dan mengalami kegagalan, trauma dan kefrustrasian dapat menjadi sebuah penghalang.

Selama kondisi hati seperti ini tidak ditanggulangi, biasanya orang-orang tersebut tanpa sadar akan terkondisikan untuk hanya menjalani hidup sebagaimana adanya. Kalaupun ada orang lain yang berusaha untuk memacu dirinya, ia akan cenderung untuk terus mengingat kembali kegagalannya di masa lalu, sehingga ia tidak memiliki daya dorong yang dibutuhkan untuk mengambil langkah baru. Seandainya orang yang bersangkutan mau menanggulangi kefrustrasian, trauma dan perasaan gagal yang selama ini menguasainya, ia akan bisa membuat perencanaan bagi hidupnya, sehingga pada akhirnya ia dapat menjadi bagian dari orang-orang sukses.

Sebenarnya, ada banyak orang yang memiliki kemampuan yang cukup baik untuk membuat perencanaan. Sayangnya, kemampuan merencana yang baik itu tidak didukung oleh drive atau daya dorong untuk mewujudkan rencana tersebut, sehingga pada akhirnya rencana hanya tinggal rencana. Seringkali penyebabnya adalah karena orang yang bersangkutan cenderung memiliki mentalitas yang menginginkan segala sesuatunya sudah tersedia sehingga ia tinggal melangkah.

Orang yang memiliki mentalitas ‘cari gampang’ seperti ini tidak mau mencari tahu apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan kapasitasnya. Kalaupun ia berusaha, ia ingin langsung melihat hasil usahanya pada hari yang sama. Sebagai akibatnya, jika ia tidak mendapati hasil yang diharapkan, apa yang sudah ia rencanakan hanya akan tertinggal di atas kertas belaka – tidak terwujud dalam tindakan nyata. (dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s