Malas yang Melenakan

Manusia dikaruniai Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sifat yang dibawanya sejak lahir. Mungkin sifat-sifat tersebut “diturunkan” dari orang tua atau terbentuk bersama lingkungan yang membesarkannya. Oleh karena itu, sering ditemui orang-orang dengan berbagai sifat yang membanggakan atau tidak dapat diterima oleh masyarakat.

Menunda pekerjaan adalah salah satu indikasi sifat malas yang melekat. Jangan menunggu pekerjaan menumpuk baru tergerak untuk mengerjakannya. Tetapi segera lakukan pekerjaan sebelum menumpuk dan Anda malas melihat tumpukan pekerjaan yang harus dilakukan.

Salah satu sifat merugikan adalah rasa malas yang biasanya melekat pada hampir setiap orang dengan kadar berbeda-beda. Sifat yang satu ini, nampaknya diberikan Tuhan secara merata kepada setiap orang sebagai cobaan. Di mana barang siapa yang mampu melawan dengan gigih rasa malas dan membuangnya jauh-jauh dari dalam hidupnya, orang tersebut semakin mendekati kesuksesan.

Sifat malas memang hadir dalam berbagai segi kehidupan. Bahkan sejak kehidupan itu mulai berdenyut, kemalasan telah hadir di sana. Kita bisa lihat dalam kehidupan rumah tangga, betapa anak-anak sangat sulit untuk dibangunkan di pagi hari. Padahal anak-anak itu harus segera menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah.

Begitu juga dengan orang tua sendiri yang acapkali “menyepelekan” sesuatu yang dianggap remeh akibat kemalasannya. Cucian piring, pakain kotor yang menumpuk, mainan yang berserakan dan rumah yang berantakan adalah salah satu contoh bagaimana sifat malas itu bercokol. Membiarkan keadaan tersebut berlama-lama akan mengakibatkan suasana rumah yang cenderung redup dan kehilangan sinar kebahagiaan.

Apabila sebuah keluarga terlena dalam kemalasan, gerbang kehancuran sudah menanti. Meskipun tidak terjadi dalam sekejap mata, lambat laun efek kemalasan sangat terasa. Kehangatan keluarga yang semakin berkurang, prestasi sekolah anak-anak menurun dan yang paling mencemaskan, karier orang tua sebagai penopang kesejahteraan keluarga tidak berlangsung sesuai harapan.

Padahal, dengan “sedikit” mengurangi ketergantungan dari kenikmatan sifat malas dapat mengubah segalanya. Seperti menghilangkan rasa malas bangun pagi, akan membuat seseorang memiliki kesempatan untuk menghirup udara yang bebas polusi. Ini akan mendukung kebugaran tubuh untuk melakukan aktivitas dalam waktu yang sangat lama.

Selain itu, dengan “menghapus” sifat-sifat malas yang lain membuat seseorang memiliki kesempatan beberapa langkah di depan. Ketika beberapa sifat malas sudah terhapus dan lebih mengedepankan sifat rajin dan disiplin, kesuksesan lebih mudah diraih. Karena tidak ada kesuksesan yang bersifat instant sehingga dengan bermalas-malasan akan datang dengan sendirinya. Semua harus diperjuangkan dengan rajin, disiplin dan konsekwen.

Nah, tunggu apalagi, segera tinggalkan sifat-sifat malas. Kenalilah diri Anda sendiri terutama untuk mengesampingkan sifat malas yang begitu melenakan. Apalagi, bagi generasi muda Indonesia yang menjadi tumpuan harapan bangsa, kemalasan harus dibuang jauh-jauh. Jangan sampai terbius oleh buaian rasa malas yang sangat melenakan.

Kenikmatan untuk bermalas-malasan hanyalah sesaat saja. Masa depan yang cerah menunggu digapai dengan upaya sungguh-sungguh, kerja keras dan disiplin. Tanpa itu, semua harapan hanyalah sia-sia karena sekadar utopia semata. Mari generasi muda, kita lawan kemalasan yang melenakan, dengan semangat untuk mengapai masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s