Tularkan Semangat dan Energi Positif

Pernahkah Anda perhatikan, sekelompok orang yang duduk bersamaan, ketika salah satu menguap, maka “aksi” tersebut akan diikuti oleh orang-orang di sekitarnya. Begitu juga ketika satu orang duduk menyilangkan kaki, satu dua orang akan melakukan hal serupa. Kesamaan aktivitas ini, akan memengaruhi satu sama lain bagi individu yang berkelompok.

Perilaku ini, secara luas akan berkembang menjadi solidaritas kelompok yang memang sudah memiliki kesamaan. Satu kantor, satu lingkungan, satu sekolah dan lain-lain akan mempermudah identifikasi seseorang terhadap kelompoknya. Setiap orang yang menjadi bagian dari kelompoknya akan menanggung apapun yang terjadi pada kelompok tersebut. Ketika kelompok tersakiti, bahagia, marah dan lain-lain semua merasakan.

Kondisi tersebut sedikit banyak menjelaskan kenapa terjadi tawuran antar pelajar, tawuran mahasiswa dan tawuran antar kampung maupun suku. Begitu juga dengan kesurupan massal yang terjadi pada puluhan siswa sekolah yang belakangan marak terjadi.

Faktor solidaritas antar anggota kelompok, nampaknya berpengaruh terhadap kejadian-kejadian tersebut. Meskipun tidak secara langsung, namun ikatan emosional dalam berbagai tingkatan (dari terendah sampai tertinggi) telah mempengaruhi perilaku kelompok secara keseluruhan. Oleh karena itu, seringkali kita jumpai peristiwa-peristiwa terjadi pada kelompok yang rasanya tidak akan terjadi secara perseorangan.

Nah, di sini terlihat bahwa perilaku kelompok dapat diarahkan, dipengaruhi bahkan dimanipulasi. Suara dominan dalam kelompok dapat menggerakkan untuk melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Sebaliknya, suara dominan tersebut dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Maka dari itu, sekecil apapun peran Anda dalam sebuah kelompok maka berhati-hatilah terhadap apa yang Anda sampaikan. Baik itu ide, gagasan maupun ajakan-ajakan harus dipertimbangkan secara masak. Karena ide, gagasan dan ajakan itu, apabila dianggap penting akan menjadi landasan utama kelompok untuk bertindak.

Tentu tidak akan menjadi masalah ketika ide, gagasan dan ajakan itu bersifat positif. Namun, terbayang akibatnya apabila ide, gagasan dan ajakan negative kemudian dianut oleh kelompok secara keseluruhan. Dampak buruk yang akan terjadi tidak hanya dirasakan oleh orang-orang kelompok, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.

Oleh karena itu, marilah kita –baik dalam komunitas kelompok yang besar maupun secara individu- untuk terus menerus menebar dan menularkan semangat serta energy positif. Dengan demikian, tindakan-tindakan dan aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pelajar, mahasiswa dan masyarakat menjadi lebih bermanfaat bagi sesama.

Karena, baik kecil maupun besar peran seseorang dalam kelompok sangat berpengaruh. Apa yang dilakukan dan dikatakan bisa jadi akan memotivasi, menginspirasi dan mendorong kelompoknya untuk bergerak. Dan, apabila yang dilakukan itu adalah semangat dan energy positif, maka manfaat yang besar akan dirasakan oleh masyarakat, bangsa dan negara.

Untuk lebih memperjelas uraian di atas, artikel dari Motivator No. 1 Indonesia, Andrie Wongso berikut ini dapat dijadikan acuan. Selamat menyimak…..

Perilaku itu Menular

Jejaring sosial ternyata tak hanya berperan dalam menyebarkan berita atau informasi. Secara psikologis jejaring ini bisa menjadi media untuk menularkan perilaku positif seperti motivasi, kebahagiaan, kegembiraan, antusias, dan sejenisnya. Bagaimana caranya?

Saling Memotivasi

Dari sepakbola seseorang bisa belajar kesuksesan hidup, seperti dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Gert-Jan Pepping, ahli ilmu olahraga dan pengajar dari Human Movement Sciences University of Groningen, Belanda.

Pepping melakukan penelitian dari sejumlah tim sepakbola yang melakukan adu tendangan penalti untuk menentukan pemenangnya dalam pertandingan-pertandingan penting. Tim di mana setiap pemain yang mencetak gol lalu merayakan golnya bersama teman-temannya cenderung bisa memenangkan adu tendangan penalti tersebut.

Akan tetapi banyak pemain yang sehabis mencetak gol justru merayakannya dengan mengajak penonton bersorak dengan cara mengangkat tangan ke arah penonton. Memang penonton bisa ikut histeris dan semangatnya meningkat, namun semangat penonton yang meningkat itu tak berpengaruh pada hasil pertandingan karena yang akan melakukan giliran tendangan penalti berikutnya adalah pemain lain. Karena itu lebih penting melakukan selebrasi bersama timnya dibanding dengan penonton. Ini karena semangat dan kepercayaan diri itu akan menular pada rekannya.

Masalah ini tak hanya terjadi dalam sepakbola atau olahraga. Menurut Pepping di bidang lain pun, seperti kantor, efeknya sama. Seorang karyawan di suatu kantor yang meraih suatu kesuksesan lalu merayakan suksesnya dengan rekannya di kantor tersebut akan mendorong rekan-rekannya itu untuk meraih sukses serupa. “Artinya seluruh anggota tim akan saling berbagi perasaan bangga dan percaya diri yang akan meningkatkan performa tim secara keseluruhan,” ujarnya.Karena itu, rayakan kesuksesan dengan rekan-rekan agar bisa menular pada tim atau perusahaan.

Kebahagiaan juga Menular

Kebahagiaan ternyata juga menular. Ia seperti virus yang bisa menyebar ke mana-mana. Karena itu seseorang bisa meraih kebahagiaan dari keluarganya, teman-temannya, atau orang lain yang tak dikenal. Penelitian dilakukan oleh James Fowler dari University of California, San Diego, dan Nicholas Christakis dari Harvard University. Dari hasil penelitian mereka ditemukan bahwa setiap orang yang meraih kebahagiaan bisa menularkan kebahagiaannya ke teman-teman lainnya secara berantai.

“Rasa bahagia itu emosi sosial. Karena itu suatu kebahagiaan bisa ditularkan melalui suatu acara sosial atau lainnya dan kemudian menyebar ke jaringan sosial lainnya,” kata Jack Dovidio dari Yale University.

Menurutnya, seringkali seseorang merasakan satu kebahagiaan yang tidak tahu entah dari mana datangnya. Ketika ditelusuri, ternyata teman terdekat bukan sumbernya. Mungkin kebahagiaan itu dari orang lain yang tidak kita kenal. Karena itu mengunjungi suatu perayaan kebahagiaan seseorang menjadi perlu kalau kita ingin tertular kebahagiaan juga.

Kesedihan dan Kemarahan

Apakah kesedihan juga mengalami hal yang sama, bisa menyebar ke mana-mana? Ternyata, menurut Dovidio, kesedihan hanya menular pada kelompok atau lingkungan terdekat dari orang yang tertimpa kesedihan itu. Sedangkan pada lingkungan di luar kelompok itu efeknya hanya sedikit.

“Suatu kesedihan, dibanding akan menarik seseorang untuk ikut merasakan sedih, orang cenderung berusaha mengenyahkannya agar tak ikut sedih,” ujar Nadine Kaslow, psikolog dari Emory Universtity. Bahkan, kata Nadine, jika kesedihan masuk ke suatu jaringan sosial, anggota jaringan sosial itu justru bisa bertindak sebagai obat yang membujuk si sedih untuk tidak bersedih.

Bagaimana dengan kemarahan? Menurut Dovidio, efek kemarahan ternyata mirip kebahagiaan. Jika satu anggota kelompok sosial marah pada satu objek, maka kemarahan itu akan menular sehingga anggota kelompoknya ikut marah. Barangkali ini memberikan jawaban kenapa posting-an marah dalam satu website jejaring sosial selalu mengundang kemarahan lain dan kemudian menggelindingkan efek bola salju kemarahan.

Efek Domino Menyumbang

Seringkali dalam satu acara penggalangan dana ada “provokator” yang memancing hadirin untuk tertarik memberikan sumbangan.Ini tak sekadar taktik. Menurut penelitian, keputusan ikut menyumbang seseorang ditentukan oleh sikap orang lain menyumbang dalam kegiatan yang sama.

Penelitian mengenai ini dilakukan juga oleh Fowler dan Christakis. Menurut hasil penelitian mereka, jika seseorang menyumbangkan uang untuk menolong yang lainnya dalam satu ajang pengumpulan dana, hadirin yang tidak menyumbang saat itu akan menyumbang pada kesempatan berikutnya.Efeknya seperti efek domino.Satu orang mempengaruhi tiga orang. Lalu ketiga orang itu mempengaruhi 10 orang dan seterusnya.

“Personaliti itu unik dan sangat menarik untuk dipelajari.Sifat kebaikan ternyata menyebar ke banyak orang bahkan kepada orang yang tak kita kenal,” ujar Fowler. “Aliran kebahagiaan, ide, cinta, dan kebaikan sangat diperlukan dalam hubungan sosial. Karena itu jaringan sosial akan menjadi perangkat untuk menyebarkan sifat-sifat itu,” katanya menambahkan.

Nah, karena itu agar banyak orang yang bahagia, semangat kerja tinggi, termotivasi, antusias, dan sejenisnya, bisa disalurkan lewat jejaring sosial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s