Bisnis Musiman Ramadhan

Pasar Ramadhan 1433

Setiap bulan Ramadhan tiba, banyak bermunculan pengusaha baru di pinggir jalan. Mereka cukup bermodal satu buah meja dan langsung menggelar dagangannya. Jualannya pun tidak jauh-jauh dari kebutuhan orang yang sedang menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Kebanyakan pedagang dadakan ini menyediakan menu ‘takjil’ atau berbuka bagi umat muslim yang sedang berpuasa. Misalnya kolak, es buah, jus serta beraneka macam gorengan mulai dari tahu isi, tempe goreng, risoles dan lain-lain. Selain itu, pelengkap “makanan berat” alias lauk pauk pun banyak disediakan, dari ayam bakar, ayam goreng sampai peyek.

Biasanya dagangan mereka ini akan ludes terjual saat menjelang berbuka puasa. Besarnya kebutuhan terhadap keperluan makanan selama Ramadhan membuat apapun yang dijual hampir pasti laku. Bisnis-bisnis semacam ini biasanya akan surut seiring waktu mendekati hari raya Idul Fitri tiba.

Orang-orang yang biasanya menjadi konsumen mereka –yang karena kesibukan jarang menyediakan sendiri takjilnya- pulang kampung untuk merayakan lebaran di kampung halaman. Bukan tidak mungkin, para penjual musiman tersebut pun harus menempuh puluhan hingga ratusan kilometer untuk berlebaran di kampung.

Fenomena pedagang musiman ini, senantiasa terjadi pada setiap bulan puasa di tanah air. Bahkan para “pelakunya” telah melintasi batas sosial. Para pedagang musiman ini tidak hanya terbatas pada orang-orang “biasa” tetapi juga orang-orang dengan kemampuan ekonomi lebih. Misalnya mahasiswa dan anak-anak kost yang mencoba mencari tambahan uang saku. Atau para pelajar yang memanfaatkan waktu libur dengan kegiatan positif dan produktif.

Anak-anak tersebut –mahasiswa, anak kost sampai pelajar- tentu secara ekonomi tidak “terlalu” membutuhkan uang. Apalagi, kadang mereka secara “demonstrative” menggelar dagangan di tunggangan (mobil) yang tidak biasa untuk berdagang. Artinya secara primer kebutuhan keuangan mereka masih mendapat jatah lebih dari orang tua masing-masing. Namun, sisi positifnya mereka telah mencoba untuk mandiri dengan keuletan dalam membangun sebuah usaha.

Selain itu, dilihat dari sisi lain, fenomena ini mungkin menjadi berkah Ramadhan. Yang mana tidak hanya pedagang “betulan” yang meraup untung besar, pedagang musiman pun mampu mendulang rezeki. Setidaknya, para pedagang musiman belajar membangun usaha sendiri di tengah hiruk pikuk kegiatan Ramadhan. Karena begitu puasa usai, mungkin perdagangan yang mereka jalankan ikut terhenti.

Mereka akan kembali pada kegiatan masing-masing. Dan, saat Ramadhan tiba tahun berikutnya mereka kembali membuka dagangan di pinggir jalan. Begitu seterusnya kegiatan ini berputar dan bukan tidak mungkin “dilanjutkan” oleh generasi lainnya. Sementara para pendahulunya, berbekal pengalaman menjajakan dagangan di bulan Ramadhan sudah memiliki bisnis yang lebih besar lagi. Siapa tahu………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s