“Life Time Achievement” Untuk Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS.

Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS
Spesialis Orthopaedi

Dunia kedokteran Indonesia akan memasuki zaman baru di era globalisasi. Pasien Indonesia yang sebelumnya berbondong-bondong ke luar negeri untuk berobat, di era keterbukaan tidak perlu melakukannya. Karena para dokter dan ahli kesehatan dari seluruh dunia bebas membuka praktek di negara manapun termasuk Indonesia. Di akui teknologi kesehatan di bidang orthopaedi dalam beberapa hal agak terbatas khususnya di daerah, tetapi di pusat-pusat pendidikan orthopaedi Indonesia teknologi tersebut telah memadai.

Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS., adalah spesialis orthopaedi dari RS Orthopaedi Dr. Soeharso Solo. Ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tanggal 30 Agustus 1969, dan menikmati masa bakti sosial, kegiatan yang lebih dikenal dengan sebutan ‘turba’ atau turun ke bawah. Ia selalu mengikuti kegiatan berkeliling daerah, mulai di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Lampung, sampai Sumatera Selatan.

Hingga akhirnya, Sutopo tersentak oleh kesadaran yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Pertanyaan tersebut adalah, kapan dirinya akan bekerja sebagai dokter sungguhan. Berkat jasa Prof. Dr. R. Soeharso (alm), ia ditempatkan di Lembaga Orthopaedi dan Prothese (LOP) Surakarta, sebagai pegawai bulanan. Mengenai orthopaedi, spesialisasi yang ditekuninya selama ini, Sutopo mengetengahkan batasannya yang diambil dari American Academy of Orthopaedic Surgery (1960), yaitu: ‘Orthopaedics is the medical specialty that includes the investigation, preservation, restoration, and development of the form and function of the extremities, spine, and associated structure by medical, surgical, and physical method.’

Berdasarkan batasan itu maka ruang lingkup orthopaedi dan traumatologi sama dengan ruang lingkup kedokteran pada umumnya, yaitu kelainan bawaan (sejak lahir), trauma, infeksi, neoplasma (tumor), kelainan degeneratif (kemunduran), kelainan metabolic, bahkan kelainan fungsi dan bentuk akibat/segualae cerebral palsy dan  poliomyelitis, yang mengenali anggota gerak atas, anggota gerak bawah, dan tulang belakang, baik mengenai tulangnya sendiri maupun mengenai associated structure.

Di Indonesia, lanjutnya, digunakan singkatan SpOT untuk Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi yang diletakkan di belakang nama dokter. SpOT ini tergabung dalam Perhimpunan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia atau PABOI yang berinduk pada Ikatan Dokter Indonesia. Saat ini anggota PABOI sudah lebih dari 400 orang dokter ahli ortopedi. Menurut Sutopo, jumlah tersebut sangat sedikit mengingat jumlah penduduk Indonesia mencapai 234 juta jiwa. Saat ini PABOI memiliki 13 cabang di Indonesia, meliputi seksi yang jumlahnya ada tujuh,  yakni seksi-seksi spine, hand, orthopaedic pediatric, sport, joint replacement, orthopaedic oncology dan yang terbaru yaitu orthopaedic rheumatology. Indonesia Orthopaedic Rheumatology Association (IORA) dibentuk pada tanggal 16 Juni 2011 di Pekanbaru.

Sutopo memasuki masa pensiun per tanggal 1 April 2002, saat menginjak usia 60 tahun setelah menjalani masa bakti selama 32 tahun. Pria kelahiran Purworejo, 25 Maret 1942 ini mengaku tidak punya alasan khusus menggeluti profesi di bidang ini. Ia hanya mengikuti falsafah ‘mbanyu mili’ yaitu mengalir seperti air yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Sutopo prihatin karena keberadaan spesialis orthopaedi dan traumaologi masih sangat terbatas untuk rasio penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa. Maka, ia dituntut berlaku istiqomah, yaitu memiliki keteguhan hati untuk mempelajari, menekuni,  dan mengamalkan ilmu ini. Komitmen kuat Sutopo untuk menekuni bidang ini menemui kendala besar, terlebih untuk berprofesi sebagai ahli bedah orthopaedi. Kendala ini terkait dengan sistem pendidikan yang ada. Sistem pendidikan di Solo waktu itu, LOP mensyaratkan pendidikan ahli bedah orthopaedi selama lima tahun hanya bisa di ikuti oleh dokter umum.

Sutopo mengikuti pendidikan Ahli Bedah Orthopaedi di FKUI Jakarta mulai Mei 1976 dan berpartisipasi dalam The First National Congress of the Indonesian Orthopaedi Association, Jakarta, 1-3 Nopember 1974 dan Simposium Orthopaedi Daerah, Jakarta, 25 Oktober 1975. Ia lulus pendidikan ahli bedah orthopaedi pada 17 Nopember 1978 dan melaksanakan pengabdian kepada begitu banyak pasien dengan beragam penyakit orthopaedi dan cacat fisik orthopaedi. Berdasarkan pengamatannya Sutopo berpendapat, pertambahan jumlah spesialis orthopaedi dan traumatologi dibarengi dengan pertambahan jumlah pasiennya. “Jumlah pasien orthopaedi di Solo tidak berkurang. Ternyata ungkapan ‘The orthopaedic surgery is A surgery for yesterday, today and tomorrow’  menjadi benar adanya,” ujarnya.

Meski demikian, Sutopo tak ingin menyangkal perkembangan ilmu orthopaedi dan traumatologi di Indonesia cukup maju. Baik pengetahuan mau pun teknologinya selalu mengikuti perkembangan mutakhir. Menurutnya kemajuan ini dipicu oleh:

  • Pertama, Continuing Orthopaedic Education (COE) rutin dilaksanakan setiap enam bulan. Ini merupakan ajang pertemuan para spesialis orthopaedi dan traumatologi sekaligus untuk menyimak presentasi yang disampaikan oleh para ahli-ahli dari dalam dan luar negeri.
  • Ke dua, kongres PABOI yang rutin diadakan setiap dua tahun. Forum yang lebih akbar ini menghadirkan presentasi para ahli dari luar negeri dengan porsi yang lebih besar pula.
  • Ke tiga, simposium atau seminar baik yang dilaksanakan oleh bagian orthopaedi fakultas kedokteran berbagai universitas di Indonesia mau pun rumah sakit tertentu.
  • Ke empat, para ahli dari Indonesia aktif mengikuti pertemuan-pertemuan international.

Ayah dari Dr. Vita Susianawati, Sp.A, M.Kes; Afiani Dwi Handayani, SPsi., Psi; Arif Nugroho, ST, SE; dan Muhammad Subarkah dan suami Hj Siti Awalina ini berharap agar para spesialis orthopaedi dan traumatologi yang lebih muda, untuk senantiasa terpacu dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan ke-orthopaediannya. Mereka harus bisa meningkatkan pelayanan tanpa pilih-pilih pasien miskin atau dhuafa dan pasien VIP atau elit. Sehingga, terjadi pula peningkatan pengabdian dan dedikasi kepada masyarakat dan bangsa, selain tentu saja untuk peningkatan kesejahteraan diri dan keluarga semata.

Atas pengabdian panjang di dunia kedokteran, prestasi, kerja keras dan pencapaiannya selama ini, penghargaan Indonesian Business Award & TOP Product 2012 Kategori “Life Time Achievement” dipersembahkan kepada  Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS., Spesialis Orthopaedi. Selamat…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s