“Ngutang” Itu Tidak Haram

Dalam hidup keseharian, sudah biasa terjadi saling berhutang satu sama lain. Anak yang butuh dana untuk menikah bisa berhutang kepada orang tua atau saudaranya yang lain. Di kantor, para karyawan biasa meminjam uang koperasi karyawan untuk suatu keperluan.

Bahkan yang lebih ekstrim lagi, bayi-bayi yang terlahir di Indonesia, begitu melihat dunia mereka sudah memiliki beban utang. Ya….karena hutang Republik Indonesia yang begitu besar dan dibayar melalui APBN, membuat siapapun warga negara Indonesia ikut menanggungnya tanpa kecuali.

Kita sebagai warga negara memang tidak secara langsung membayar hutang tersebut. Akan tetapi pajak yang kita bayarkan sebagian besar digunakan untuk membayar bunga dan cicilan hutang negara yang maha besar itu.

Meskipun demikian, sebenarnya hutang memang diperlukan dalam kehidupan manusia. Apalagi untuk urusan bisnis yang melibatkan aliran modal yang sangat besar, kebutuhan uang sangat mutlak diperlukan.

Masalahnya, tidak semua pengusaha memiliki uang sebanyak yang diperlukan untuk menjalankan roda bisnisnya.  Nah, seperti juga negara kita yang berhutang besar untuk menjalankan roda pemerintahan, begitu juga yang bisa dilakukan oleh pengusaha ketika bisnisnya mulai menggurita, sementara brankasnya kosong untuk membiayai roda usahanya.

Hutang menjadi solusi yang sangat tepat.  Toh, ngutang secara agama pun tidak dilarang alias tidak haram. Asalkan, memenuhi kewajiban untuk mengembalikan hutang-hutang tersebut. Lalu, kapan saat yang tepat bagi seorang pengusaha untuk “berani” ngutang pada pihak lain. Artikel yang ditulis founder TDA berikut ini patut disimak…….

Kapan Saat yang Tepat untuk Berhutang?

Hutang dalam bisnis sama sekali tidak bisa dihindari. Misalnya, saya beli bahan untuk produksi. Tentu tidak mungkin langsung dilunasi begitu bahan tiba. Paling tidak ada tempo seminggu dua minggu, bahkan sebulan. Itu namanya hutang juga.

Intinya adalah, bukan tidak boleh berhutang, tapi bagaimana menggunakan hutang dan kapan menggunakannya.

Hutang untuk sesuatu yang produktif, tentu boleh. Tapi, ada syarat dan waktunya. Saat mulai bisnis, berhutang tidak disarankan, sebaiknya pakai modal sendiri atau investor.

Kalau bisnis sudah bertumbuh, barulah boleh berhutang dalam jumlah yang “aman”. Berapa jumlah yang aman? Tergantung. Biasanya jangan sampai lebih dari 2 kali nilai aset kita, atau 2 kali profit tahunan bisnis.

Bisnis juga ada siklusnya. Ada saat menanam (start up), growth, maturity dan decline. Saat decline, jangan sekali-sekali berhutang. Cash adalah yang utama pada saat itu, kata Pak Heppy.

Kebanyakan pengusaha salah dalam timing berhutang. Mereka berhutang saat baru memulai dan saat perusahaan decline.

Juga perhatikan jangka waktu hutang. Jangan gunakan hutang jangka pendek untuk investasi jangka panjang. Demikian sebaliknya.

Sekali lagi, ini adalah soal soal boleh tidaknya berhutang, tapi bagaimana dan kapan berhutang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s