Menempa Potensi Diri

Setiap orang –disadari atau tidak- memiliki potensi besar dalam dirinya. Potensi diri tersebut apabila dikembangkan dengan baik akan membawa keberhasilan tersendiri. Tinggal bagaimana upaya seseorang untuk mengasah potensinya sehingga mampu mengangkat deraja kesejahteraan hidupnya.

Bukti keberhasilan dari mengasah potensi diri ini sangat banyak di seluruh dunia. Orang-orang sukses adalah orang yang secara terus menerus menempa dirinya untuk menggapai impiannya. Mereka selalu focus untuk mewujudkan mimpi-mimpinya itu melalui langkah-langkah terencana yang disusunnya secara bertahap.

Selama menjalani tahapan-tahapan menuju kesuksesan dan terwujudnya impian, orang-orang sukses selalu menyempatkan diri untuk belajar, belajar dan belajar. Hasil pembelajarannya itulah yang memberikan mereka menjadi matang, dewasa dan bijaksana sehingga pada waktu kesuksesan benar-benar datang, mereka menghadapinya dengan tenang. Menyikapinya secara bijak tanpa harus mengagung-agungkan dirinya, jauh dari keseombongan dan keangkuhan.

Kisah berikut ini akan memberikan gambaran, menempa diri seperti apa dan bagaimana yang akan mendorong Anda mencapai impian. Selamat menyimak……

Maksimalkan Kelebihan untuk Menjadi Nomor Satu

Dalam diri setiap orang, pasti ada kelebihan yang bisa dimaksimalkan. Namun, semua kembali pada diri masing-masing untuk bisa memaksimalkan kelebihan itu atau tidak. Kisah Houtman Zainal Arifin menjadi bukti nyata, bahwa karier seseorang bisa diubah!

Ada satu kisah yang sangat inspiratif yang sudah banyak tersebar di berbagai media. Kisah tersebut adalah kisah nyata dari seorang bernama Houtman Zainal Arifin. Beliau adalah seorang mantan pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy (OB), yang dengan tekad kuat, akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu di Citibank Indonesia*.

Sekitar tahun 60-an Houtman memulai kariernya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Di Jakarta Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan di Jakarta ternyata sangat keras dan tidak mudah. Dengan bekal hanya gelar lulusan SMA, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapi, keren, dan berdasi. Houtman pun ingin seperti mereka.

Houtman lantas melamar kerja di gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Sampai suatu saat, ia mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (Citibank), sebuah bank bonafid dari Amerika Serikat. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang OB. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, WC, ruang kerja dan ruangan lainnya. Saat itulah, Houtman mulai menancapkan “impian” yang nyaris tak mungkin. Tapi, ia telah bertekad kuat, untuk mengubah nasib. Dan, inilah yang dilakukannya…

•Tidak ragu untuk belajar hal baru
Sebagai OB, Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai, Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya-tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya.

•Tidak banyak perhitungan
Hampir semua pekerjaan-termasuk yang bukan tugas aslinya-dilakukan dengan senang hati dan sukarela. “Hadiah” yang didapat adalah ia mendapat ilmu baru dari staf yang dibantunya. Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

•Buktikan prestasi pada diri sendiri, bukan orang lain
Tidak sekali dua kali ia dilecehkan dengan kesukaannya bertanya tentang banyak hal baru yang tak dimengertinya. Bahkan sesama OB sering menyindirnya dengan kata-kata: “Kalau masuk dari OB, ya keluar nanti tetap jadi OB.” Namun, ia terus bertekad untuk mau belajar dan memperbaiki nasib. Houtman berpikir, ia sendirilah yang bisa mengubah nasibnya. Maka, ia bekerja keras untuk meraih yang terbaik pada profesi apa pun yang dijalankan.

•Beranilah untuk belajar dan bertanya
Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangat langka. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Pada suatu hari, petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya. Sejak saat itu, Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai “Tukang Foto Kopi”.

•Bekerja bukan untuk mengejar gaji
Sebagai tukang foto kopi, ia punya akses untuk melihat dan mempelajari banyak dokumen. Hingga, akhirnya, ia menawarkan bantuannya secara sukarela untuk membantu membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mengecap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan.

•Bekerja dengan sepenuh hati
Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya. Dan, sejak saat itulah, pelan tapi pasti, ia terus belajar dan bekerja keras dengan sepenuh hati hingga ia berhasil menorehkan sejarah menjadi orang nomor satu di Citibank Indonesia, meski hanya lulusan SMA.

Inilah gambaran nyata, betapa kualitas dalam diri seseoranglah yang mampu mengubah nasib dan karier. Mari, maksimalkan kualitas diri dengan bekerja maksimal dan mau selalu belajar, maka kita bisa jadi “nomor satu” di mana pun kita berada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s