Idea yang Menyejahterakan

Sebuah bisnis besar biasanya tumbuh dari satu hal yang kecil saja. Kejelian melihat peluang, pasar yang terbuka lebar dan timing yang tepat akan meningkatkan akselerasi bisnis. Bisnis yang dikembangkan dari idea kebanyakan menyangkut hobi dan kesukaan dari pemilik bisnis.

Kesuksesan bisnis yang berasal dari idea ini telah terbukti mendunia. IBM, IPad, Microsoft, Facebook, Twitter adalah bisnis besar menggurita yang berasal dari idea. Ranah idea ini masih sangat luas dan bisa dikembangkan lebih besar. Artinya tidak ada kata terlambat dalam membangun bisnis yang berasal dari idea, meskipun misalnya sudah terjadi kejenuhan dalam sebuah bisnis.

Oleh karena itu, temukanlah idea bisnis yang “berbeda, unik dan khas” sehingga tidak mudah bagi orang lain untuk menirunya. Idea yang berbeda, unik dan khas akan menjadikan Anda sebagai leader yang sangat sulit untuk didekati. Orang-orang di belakang Anda yang akan menjadi pengikut setia sebagai follower business dari usaha yang Anda kembangkan.

Kondisi itu justru akan menjadi akselerator bisnis Anda untuk mencapai kemajuan secepat-cepatnya. Karena Anda bisa menentukan secara tegas apa yang harus dilakukan oleh follower-follower yang mengikuti gaya yang Anda ciptakan. Anda telah menjadi trendsetter  dalam sebuah bisnis yang mendikte pasar yang akan menggembungkan pundi-pundi uang Anda.

Jadi, langkah awal untuk memulai bisnis yang sukses adalah dengan mengembangkan idea sendiri. Ya, idea milik sendiri sesuai dengan passion masing-masing. Bisa dari hobi, kesenangan, kegemaran yang ditekuni secara intensif sehingga sedikit demi sedikit bisa dikembangkan menjadi sebuah bisnis.

Kalau itu sudah “dapet” peluang untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya akan datang dengan sendirinya. Karena di bagian masyarakat yang lain, banyak orang-orang yang akan membeli idea Anda dengan mahal. Inilah yang akan menjadi keran uang yang menyejahterakan hidup dari idea Anda, seperti pada artikel berikut ini.

Ideapreneur

Teman saya bercerita bahwa sejumlah teman-temannya yang punya modal besar, seringkali memulai bisnisnya tidak dengan benih ide. Tapi cenderung membeli ide saja. Jalan pintas yang gampang. Misalnya dengan membeli franchise dari luar. Sehingga pemberdayaan ide tidak tercapai. Saya rada setuju dengan observasi teman saya ini. “Ideapreneur” atau pemberdayaan ide membebaskan kita dari konsep bisnis yang njelimet. Memberikan kita semangat baru, untuk menciptakan bisnis-bisnis baru lewat pemikiran yang imajinatif. Sisanya adalah keberanian kita untuk mencoba. Jadi bisnis yang bagus, bisa apa saja. Tidak harus ini dan itu.

Menjelang akhir tahun, banyak sekali wartawan yang bertanya kepada saya tentang prospek bisnis tahun depan. Terutama tentang jenis-jenis bisnis unggulan. Pertanyaan ini menggelitik saya. Tak lama kemudian, seorang teman mengirim email kepada saya. Ia kebetulan orang Indonesia yang sudah pindah ke Eropa lebih dari 10 tahun. Dalam emailnya ia sempat melucu, katanya setelah lama tidak mudik ke Indonesia, ia menemukan banyak sekali hal-hal yang ia sebut dengan istilah “kombinasi ekonomi gaya baru”. Ini observasi yang menarik memang.

Pengasong di Bandara
Misalnya saja, ketika turun di airport Cengkareng ia dihampiri sejumlah pengasong intelek, yang menawarkan produk-produk palsu seperti jam tangan dan pen. Ia sempat terbahak, karena belum pernah ia mengalami hal serupa di negara lain. Kalau dipikir memang entah siapa dulu yang memulai kegiatan seperti itu, atau punya ide gila yang asli seperti itu. Tapi rupanya ide ini lumayan hasilnya, sehingga menyebar kemana-mana, dan yang berjualan seperti itu di airport cukup banyak juga.

Pengasong di Kemacetan
Dalam perjalanan pulang ke Cinere, ia dan keluarganya sempat terperangkap dalam kemacetan lalu lintas yang sangat padat, yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Observasi nakalnya sempat menangkap ulah para pedagang asongan. Setelah pengamatan yang sekian kali, ia berkesimpulan bahwa tukang asongan ini, dagangannya juga berbeda-beda. Di tempat-tempat yang macetnya cukup parah, menurut observasinya banyak tukang asongan yang membawa makanan camilan, seperti kacang dan malah mangga muda. Disini tukang asongan sdh bisa membaca kebutuhan pasar, dimana para supir mencari kesempatan membunuh rasa bosan-nya ditengah kemacetan.

Lain lagi dengan dagangan para asongan di sepanjang jalan pantai utara, karena beda lagi jenis dagangan-nya. Banyak diantara mereka yang menjual kombinasi botol air mineral yang ditempeli sachet minuman enerji. Rupanya pedagang asongan disini sudah bisa pula membaca kebutuhan lain para supir yang ingin menghilangkan rasa kantuknya.

Pengasong di Tempat Pelesir
Giliran akhir minggu, teman saya ini pelesir ke Puncak Cipanas. Disepanjang jalan ia melihat anak-anak muda, mengacung-acungkan papan nama dengan tulisan „villa“. Sempat ia bingung, tapi akhirnya ia tergelak ketika mengetahui bahwa anak-anak muda itu adalah „broker“ yang menawarkan penyewaan villa-villa disekitar puncak. Biarpun caranya sangat primitif, teman saya ini sempat kagum malah. Ada-ada saja akal-nya.

Ketika berlibur di Bandung, lagi-lagi teman saya terheran-heran, ketika sejumlah anak muda, menjual asongan sekuntum bunga yang dibungkus plastik. Padahal ini bukan musim Valentine. Apakah anak-anak muda ini, mengambil peluang dan ide nostalgia, bahwa dulunya Bandung disebut kota Kembang ? Dan sejumlah anak-anak muda ini mencoba kreatif memanfaatkan sejarah dan menjualnya kepada turis?

Puncak kekaguman teman saya ini, terjadi ketika mereka berlibur ke Bali. Di pantai Kuta, anda bisa menemukan penjual asongan dalam segala bentuk. Mulai dari asongan suvenir, sampai kepada asongan pijat, asongan stiker tatoo hingga asongan untuk membuat rambut anda terpilin-pilin bergaya Jamaica seperti penyanyi Bob Marley.

Kesimpulan
Jadi kesimpulan observasi teman saya, bisnis cuma memerlukan ide. Selebihnya adalah kemauan dan kreatifitas menjual. Ini yang sering disebut sebagai „ideapreneur“ yaitu generasi entrepener yang bermodalkan ide. Dan bukti nyatanya memang ditemukan teman saya hampir disetiap sudut kehidupan dan perempatan jalan. Kemanapun kita pergi, disekeliling kita dipenuhi dengan „ideapreneur“. Jangan tertawa kalau cara mereka primitif dan seadanya. Minimal mereka bisa berusaha dengan modal dengkul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s