“Perusahaan Forwading Terbaik” Untuk PT Lautan Asanda Lima

Muhammad Satria Islami
Direktur Utama PT Lautan Asanda Lima

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Ketika banyak pengusaha enggan berbisnis di luar Indonesia, founder PT Lautan Asanda Lima, Sariat Arifian justru telah berjaya di Afrika. Sejak 2004, putra Betawi ini memang menyasar pasar Republik Afrika Selatan (Af-Sel), melalui perusahaannya yang bergerak di bidang shipping dan forwarding tersebut. Di Indonesia, bisnis PT LAL dikendalikan oleh Muhammad Satria Islami selaku Direktur Utama yang merupakan adik kandung dari Sariaf Arifian yang lebih fokus pada pasar negara tujuan, Afrika Selatan.

Bisnis PT LAL berawal saat menerima pesanan dari mitra usaha di Af-Sel, yakni New South Africa Shipping Company – agen ekspor-impor yang berbasis di Durban, pelabuhan tersibuk di Afrika. Di Indonesia, Sariat membeli aneka produk secara langsung atau eceran dari produsen, lalu dibawa ke Af-Sel. Proyek pertamanya, LAL mengirimkan daun pintu berbahan kayu meranti merah yang tidak cepat memuai ketika musim panas. Dari situ, LAL kemudian merambah bisnis pengiriman glassware, makanan, bubuk cokelat, dan mi instan.

Salah seorang rekan Sariat di Johannesburg, Alex Alamsyah, mengusulkan dirinya untuk berbisnis makanan. Sejak tahun 2009, PT LAL mengirimkan 2 kontainer produk Indofood dan dipasok ke toko-toko Cina di Af-Sel. Produk yang diekspor ke sana beragam jenisnya mencapai 70 item dengan permintaan tertinggi bumbu nasi goreng, ikan Jepronx, dan bumbu rending.

Selain sebagai agen pengiriman, ia juga menghubungkan antara pembeli di Af-Sel dan produsen di Indonesia. Di sini, ia menciptakan bisnis dengan mempertemukan antara buyer dan penjual. Selain Af-Sel, PT LAL juga melayani pengiriman barang ke Arab Saudi, Afrika Timur dan Afrika Barat. Meskipun demikian, tujuan Afsel tetap mendominasi pengiriman barang perusahaan. Selain pengiriman reguler ke Bombassa Port di Kenya dan Maputu di Zimbabwe.

Saat ini, PT LAL menguasai pangsa pasar shipping ke Af-Sel sebesar 25% dibanding perusahaan shipping lain yang rata-rata hanya 2%. Persaingan yang dihadapinya justru dari perusahaan shipping asing yang menguasai pasar 75% sisanya.  Tercatat, PT LAL sejak tahun 2005, bisa mengirimkan sekitar 1.000 kontainer per tahun sampai bertahan hingga 2007. Setelah itu, hantaman krisis keuangan di Eropa dan Amerika Serikat, membuat volume pengiriman menurun. Ditambah, persaingan yang kian ketat dan gencarnya serbuan produk China membuat bisnis PT LAL ke Afrika Selatan menurun hingga 25%.

Menyikapi penurunan tersebut, sebagai founder Satria berusaha mendekati pelanggan secara rutin, serta mempelajari kelebihan dan kekurangan kompetitor. Namun, sebagai pebisnis internasional, ia menyayangkan kurang agresifnya Pemerintah Indonesia memperkenalkan kebudayaan dan bisnisnya di Af-Sel.

Harusnya, Pemerintah RI mencontoh Pemerintah Thailand yang sangat agresif dan integratif memajukan industri kulinernya di Af-Sel. Dari mulai produksi, manajemen rantai pasokan sampai promosinya diperhatikan sungguh-sungguh. Hasilnya, di tiap distrik Af-Sel terdapat minimum dua restoran Thailand. Selain itu, maskapainya juga disinergikan. Caranya, saat pengusaha makanan dalam negeri Thailand mengangkut bahan makanan melalui Thai Airlines, mereka diberikan diskon.

Menyadari tantangan bisnis antarbangsa dan antarnegara adalah faktor kepercayaan, Sariat melalui PT LAL  aktif memperkenalkan diri sekaligus budaya Indonesia melalui pencak silat. Saat ini, jumlah murid pencak silatnya mencapai 400 orang. Upaya ini mengikuti jurus Pemerintah Thailand yang telah membuka klub Muay Thai di setiap distrik di Af-Sel.

Ke depan, untuk mengembangkan pasar dan meningkatkan kepercayaan penduduk Af-Sel terhadap Indonesia, setiap tahun ia mengirim para pemuda Af-Sel ke Indonesia untuk belajar kepemimpinan dan pencak silat selama 40 hari penuh. Bekerja sama dengan Al Azhar Youth Leader Institute, mereka dilatih, belajar tentang leadership, pencak silat, angklung, macul dan belajar tentang ekspor negara Indonesia.

Muhammad Satria Islami sendiri merupakan anak ketiga dari enam bersaudara, pasangan HM Tafsir dan Ny. Farida Husein. Pria kelahiran Jakarta, 21 April 1984 ini lebih focus mengurusi bisnis perusahaan di Indonesia dengan dibantu oleh 20 orang SDM. Dibawah kendalinya, PT LAL memperoleh penghargaan dari Menteri Perdagangan South Afrika pada tahun 2006-2007.

Atas pencapaian, perjuangan dan prestasi yang telah dicapainya, Penghargaan Anugerah Citra Indonesia Kategori “Perusahaan Forwarding Terbaik” dipersembahkan kepada PT Lautan Asanda Lima dan  Muhammad Satria Islami sebagai Direktur Utama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s