Malas adalah Malas

Satu kata yang sering terdengar dari para orang tua terhadap anaknya adalah MALAS. Ini mengomentari tingkah laku atau tindakan anak-anaknya saat sulit disuruh belajar, bangun tidur pagi-pagi atau salat/beribadah.

Kata-kata malas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti 1. tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, dan, 2. segan; tidak suka; tidak bernafsu. Dengan kata lain, malas mengindikasikan bahwa orang yang memperoleh “gelar” itu tidak memiliki kemauan untuk terus berkembang di masa mendatang.

Orang malas, cenderung untuk tidak serius dan konsisten dalam menjalani kehidupan. Hampir semua kegiatan yang dilakukan tidak datang dari dalam hatinya. Tidak ada passion dari dalam diri atas segala aktivitas yang digeluti, sehingga jarang menuai keberhasilan.

Nah, banyak orang yang tidak menyadari bahwa meskipun telah bekerja keras tujuh hari seminggu, sepanjang tahun tetapi sebenarnya dia adalah pemalas. Karena apa, rasa malas adalah malas, yang akan terbawa atas apapun yang dikerjakannya.

Untuk lebih jelasnya, artikel sangat inspiratif dari laman Inspirator Sukses Mulia, www.JamilAzzaini.com ini menjelaskan pengertiannya. Sengaja kami kutip lengkap agar tidak terjadi salah penafsiran. Silakan disimak…..

Malas

Kita perlu mendefinisikan malas. Menurut saya, melakukan lebih sedikit aktivitas yang tidak penting agar bisa fokus pada hal-hal penting itu tidak termasuk malas.

Jadi, apa itu malas? Malas adalah orang yang bekerja di bidang yang tidak disukai tanpa pernah sungguh-sungguh berusaha untuk melakukan pekerjaan yang dicintai. Dia pergi berkerja tetapi hatinya tersiksa. Dia melakukan pekerjaannya dengan terpaksa.

Mengapa orang ini saya sebut malas? Karena, dia tidak mau menemukan dan melakukan dengan sungguh-sungguh apa yang bisa membuat hidupnya bahagia. Dia malas mencari tahu apa kelebihan dirinya. Dia malas melakukan sesuatu yang bisa membuat hidupnya nikmat. Dia lebih senang hidupnya dikendalikan oleh lingkungannya. Mereka itulah sesungguhnya pemalas sejati.

Saat di kantor orang semacam ini tampak sibuk tetapi hasilnya minimalis. Ia mungkin menelpon banyak calon pembeli tetapi tidak sesuai dengan target market. Ia tampak sibuk berjalan hilir mudik meminta dan mencari dokumen yang tidak terlalu penting bagi pekerjaannya. Kerjanya ngos-ngosan tetapi hasilnya pas-pasan. Itulah pemalas…

“Tega benar mas, saya sudah bekerja keras koq masih disebut pemalas!”  Ya, sebab malas bukan hanya masalah pekerjaan. Anda enggan dan tidak punya waktu menemani anak belajar itu juga pemalas. Anda tak punya waktu beribadah malam hari karena terlalu lelah itu juga pemalas. Anda tidak punya waktu berkunjung ke rumah saudara saat ia sakit itu juga pemalas.

Jadi orang yang sedikit bekerja belum tentu ia orang malas. Boleh jadi karena dia menyadari bahwa yang ia lakukan haruslah hal-hal yang penting dan membuatnya enjoy.

Dalam era sekarang, yang diperlukan bukanlah banyaknya waktu yang kita habiskan saat bekerja. Tetapi seberapa besar yang bisa Anda hasilkan dari waktu yang sudah Anda curahkan.

Fokuslah pada produktivitas daripada sekadar menyibukkan diri. Jangan malas menemukan apa kekuatan Anda. Jangan malas mencari pekerjaan yang sesuai passion Anda. Jangan malas berinteraksi dengan orang-orang produktif dan satu visi dengan Anda, terutama orang-orang yang Anda cintai. Jangan malas meninggalkan pekerjaan yang tidak penting buat Anda.

Hidup bukan hanya urusan pekerjaan tetapi juga ada urusan sosial, kemasyarakatan spiritual dan lainnya. Janganlah kita menghabiskan banyak waktu untuk satu urusan tetapi malas untuk urusan yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s