“The Best Innovative and Creative Women” Untuk Dr. Faida MMR

Dr. Faida MMR 

Chief Executive Officer RS Al Huda – Banyuwangi dan Direktur RS. Bina Sehat – Jember

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dokter Faida MMR memang bukan dokter biasa. Beberapa jabatan dan peran dijalaninya sekaligus. Selain Direktur RS. Bina Sehat – Jember, ia juga menjabat sebagai Chief Executive Officer RS Al Huda – Banyuwangi, Direktur Bina Sehat Training Center – Jember serta lembaga pendidikan di Jember dan Banyuwangi.

Faida adalah putri ketiga di antara lima bersaudara pasangan almarhum Musytahar Umar Thalib dan Widad Thalib. Sepeninggal ayah, kakak, dan adik lelakinya, keluarga dokter itu kini tinggal beranggota tiga wanita. Yakni, sang ibu, Widad Thalib; sang kakak, Mustafida dan Faida. Mustafida sudah punya kesibukan sendiri di Surabaya bersama keluarganya sehingga hanya Faida dan sang ibu yang harus mengelola sejumlah usaha keluarga di Jember dan Banyuwangi.

Faida, mau tidak mau, harus mengelola dua rumah sakit swasta cukup besar yang didirikan ayahnya dan tiga lembaga pendidikan yang sudah maju. Dua rumah sakit itu adalah RS Al Huda, Genteng, Banyuwangi, dan RS Bina Sehat, Jember. Sebelumnya, RS Al Huda dipimpin almarhum dr Asyhar, kakak Faida.

Selain mengurus dua RS, perempuan kelahiran Malang, 19 September 1968 ini, menjadi direktur BSTC (Bina Sehat Training Centre) Jember. Lembaga itu menangani peningkatan kualitas dan pendidikan para perawat yang hendak berangkat ke luar negeri, khususnya ke Arab Saudi dan Kuwait. Faida terobsesi mencetak perawat-perawat profesional yang layak bekerja di luar negeri. Untuk mengurusi lembaga itu, Faida rela pontang-panting Jember-Jakarta di sela-sela kesibukannya mengelola dua rumah sakit tersebut.

Selain ibu, sang suami, Abdul Rochim, yang berprofesi sebagai dokter gigi dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember mendukung penuh karir lulusan terbaik Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR) Pascasarjana UGM pada Mei 1998 itu. Begitu juga dengan kedua anaknya yang rela sebagian waktu ibunya tercurah untuk mengurusi orang banyak.

Bagi Faida, menjadi seorang pemimpin bukan untuk gagah-gagahan dan prestise. Yang lebih penting, posisi dan peran itu bisa memberikan manfaat bagi orang lain, seperti harapan orang tuanya ketika memilihkan nama Faida yang berasal dari kata faedah dengan harapan akan bermanfaat untuk banyak orang.

Menurut Faida, semangat mengabdi kepada masyarakat banyak merupakan warisan semangat dan filosofi yang dipegang ayahnya. Pesannya, ukuran dalam memilih sesuatu ditentukan oleh tiga hal, baik, benar dan betul. Kalau ketiganya sudah dipegang, tidak ada keraguan lagi dalam melangkah. Sedangkan apabila ada satu hal saja yang tidak dipenuhi, ia harus mundur dan menunda langkahnya.

Selain itu, sang ayah juga berpesan kepada dirinya agar tidak cepat berpuas diri dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Kadang, ia mengakui gemblengan yang diberikan ayahnya kadang terlalu berat. Seperti main catur menggunakan dua papan sekaligus. Meskipun saat itu berat, ternyata manfaatnya baru dirasakan belakangan. Yakni setelah menjadi dokter, mengelola rumah sakit serta lembaga pendidikan di beberapa tempat sekaligus.

Tak hanya itu, awal-awal berdirinya dua rumah sakit swasta yang kini dikelola Faida itu tak semudah membalik telapak tangan. Banyak hambatan yang harus dihadapi namun ayahnya selalu memberikan semangat dan dorongan sebagai perintis rumah sakit tersebut. Ia bersyukur, menjadi perintis itu adalah takdir yang harus dijalaninya. Artinya, ia memiliki kesempatan berjuang dan merintis dengan kenikmatan luar biasa di kemudian hari. Itulah salah satu makna dari nasihat ayahnya, “miliki yang kamu cintai, cintai yang kamu miliki”.

Faida harus berkonsentrasi menambah jumlah tempat tidur pasien di dua rumah sakit tersebut. RS Bina Sehat sekarang memiliki 110 tempat tidur dan hendak ditambah 50 tempat tidur baru. Sementara itu, RS Al Huda yang memiliki 146 tempat tidur akan ditambah menjadi 210 tempat tidur.

Kini, Faida harus berpikir keras untuk mempersiapkan akreditasi 16 standar pelayanan di RS Al Huda dan RS Bina Sehat. Rumah Sakit Al Huda menjadi rumah sakit pertama di Banyuwangi yang menyediakan fasilitas diagnostik ct-scan yang bisa melayani cuci darah. RS Al Huda sekarang bertipe C plus dan akan ditingkatkan menjadi rumah sakit tipe B tahun depan.

Atas pencapaian, prestasi, kreativitas dan inovasi yang telah ditunjukkan selama ini, penghargaan Indonesian Creativity Award Kategori “The Best Innovative and Creative Women” dipersembahkan kepada Dr. Faida MMR, Chief Executive Officer RS Al Huda – Banyuwangi. Selamat dan sukses……..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s