Penghargaan untuk Penggagas Fashion Show Sepanjang 3,5 Kilometer dari Jember

Dynand Fariz
Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Kesuksesan Jember menjadi perhatian dunia fashion, baik nasional maupun internasional, tidak bisa dilepaskan dari peran Jember Fashion Carnaval atau JFC. Karnaval fashion yang melibatkan ratusan model yang berjalan sepanjang 3,5 kilometer itu memang bisa membuat penggemar fashion membelalakkan mata.

Apalagi ratusan model itu bukanlah model-model asli yang terbiasa berlenggak-lenggok di catwalk. Melainkan sekumpulan anak-anak daerah, bahkan berasal dari pinggiran Kota Jember dengan tingkat ekonomi rendah. Penampilan mereka seolah menabrak tatanan dunia fashion yang selama ini berkiblat pada keglamoran.

Yang jelas, anak-anak tersebut menampilkan kreativitas yang luar biasa. Pengakuan dunia pun mereka dapatkan. Sedikit demi sedikit mereka menapaki mimpi untuk menjadikan Jember sebagai kota mode layaknya Paris dan Italia. Tampaknya, itu bukan sekadar mimpi karena saat ini pun mereka sudah menjadi perbincangan kalangan fashion internasional.

Pastinya, di balik kesuksesan pergelaran yang tahun ini mencapai tahun keenam itu, ada seorang manajer yang luar biasa. Dialah Dynand Fariz, sang pendiri sekaligus presiden JFC and JFC Center. Dengan tekad dan kemauan yang kuat, Fariz -sapaan akrabnya- mewujudkan mimpi-mimpi yang dirajutnya sejak kecil.

Terlahir di sebuah desa terpencil di Kabupaten Jember, Fariz yang asli Desa Garahan, Kecamatan Silo, merasa tidak sedikit pun bangga akan kota kelahirannya. Saat itu, di mata Fariz, Jember merupakan kota kecil yang tidak menarik dan tidak memiliki keistimewaan yang menjadikannya dikenal orang.

Kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan justru memperdalam rasa rendah dirinya. Apalagi saat mengikuti pendidikan di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya/Unesa), perasaan tertekan karena berasal dari kota yang dianggap ndesa semakin memengaruhi pikirannya.

Untung saja, dia selalu berpikir positif, menganggap hidupnya tidak akan berubah jika bukan dirinya yang mengubah. Karena itu, dia mulai menggali potensinya. Akhirnya, Fariz memahami bahwa dirinya terlahir hanya untuk berkarya lewat seni.

Laki-laki yang menjadikan kedua orang tuanya sebagai sumber inspirasi itu memulai perjuangan dengan belajar berbicara di depan publik. Maklumlah, sejak kecil Fariz tergolong pendiam dan pemalu. Lewat cermin, dia terus melatih kemampuan bicara, bahkan sampai meniru gaya pembawa acara sekelas Tantowi Yahya. Sedikit demi sedikit, dia mampu berbicara di depan umum, bahkan berimprovisasi.

Akhirnya, dengan keberaniannya, dia mulai mencoba menjadi MC pada acara-acara keluarga. Jalan hidup yang dilaluinya mulai menampakkan perubahan. Berawal dari kemenangannya pada lomba MC di Surabaya, rasa percaya dirinya mulai tumbuh dan dia mulai tahu jalan hidupnya.

Merasa kurang mendapat tantangan jika hanya menjadi seorang dosen, Fariz yang setelah lulus langsung diterima menjadi dosen di almamaternya, IKIP Surabaya, pada 2000 mencoba peruntungan dengan mengikuti program beasiswa yang disponsori sekolah mode ESMOD Jakarta.

Keberhasilannya menembus beasiswa ESMOD mengantarkan juara lukis dunia yang digelar sebuah lembaga di New Delhi pada 1978 itu menjalani kehidupan baru sebagai pelaku fashion.

Kecerdasan yang diimbangi semangat pantang menyerah menjadi kekuatan baru yang menjadikan Fariz sebagai siswa berprestasi. ESMOD pun memberikan beasiswa belajar di ESMOD Pusat, Paris, selama tiga bulan.

Keinginan tersebut tertanam kuat di benaknya sehingga begitu kembali ke tanah air, Fariz langsung mendirikan rumah mode yang berkiblat pada tren fashion dunia. Rumah mode yang diberi nama House of Dynand Fariz itu juga dia dirikan di Jember sebagai batu loncatan menuju Jember Kota Mode.

Mungkin saat itu sebagian orang menganggap keinginan Fariz sebagai ide gila dan liar yang sulit diwujudkan. Tapi, siapa sangka berawal dari kegilaan tersebut, sebuah karnaval fashion berhasil dia buat. Bahkan, mendapat pengakuan dari kalangan fashion dunia dan diliput berbagai media, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Saat mulai membangunnya, banyak aral melintang. Kondisi sosiologis masyarakat Jember yang religius dan adem-ayem, tiba-tiba dikejutkan parade fashion layaknya kota-kota metropolitan. Apalagi yang diangkat tren-tren dunia. Itu jelas menjadi hal baru bagi masyarakat yang kental dengan nuansa agraris dan pesisir tersebut.

Namun, staf pengajar ESMOD Jakarta itu tak ingin menjual omongan. Berbagai strategi dia rancang untuk menarik minat remaja, segmen yang dia bidik. Karena remaja adalah makhluk pemimpi dan tugas kita, orang dewasa, mewujudkan mimpi mereka. Itulah dasar utama terbentuknya JFC. Forum tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkarya, berkreasi, dan menggapai mimpi.

Fariz juga mampu membuktikan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa fashion. Pergelaran JFC merupakan bukti nyata ucapannya itu. Masyarakat Jember, bahkan masyarakat kabupaten-kabupaten di sekitarnya, seperti Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi, tidak pernah absen menyaksikan karnaval fashion terbesar di Indonesia tersebut.

JFC yang dikelolanya seolah menjadi candu, tidak hanya bagi remaja Jember dan sekitarnya. Tapi, juga bagi masyarakat umum. Bahkan, mereka antusias menyaksikan peserta JFC berlatih. Setiap seluk-beluk JFC menjadi perhatian publik.

Kini setelah mengadakan JFC VI, cita-cita go international mulai di depan mata. Berawal dari ketekunannya mengadakan presentasi tentang JFC di berbagai kesempatan, Fariz dan timnya mendapat kesempatan mengadakan pameran di London, Inggris, dalam Jambore Internasional. Tampaknya, mimpi Fariz menjadikan Jember sebagai Kota Mode tak lama lagi akan terwujud. Sebab, berbagai tawaran show dan pameran di luar negeri terus mengalir.

Atas prestasi, kreativitas dan pencapaiannya, penghargaan Indonesian Creativity Award Kategori “The Best Creative and Innovative Institution” dipersembahkan kepada Dynand Fariz, Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC). Selamat dan sukses………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s