Penghargaan “The Best Leader” untuk KASUBDIT II – DITTIPIDNARKOBA BARESKRIM POLRI

Kombes Pol. Drs. Siswandi
KASUBDIT II – DITTIPIDNARKOBA BARESKRIM POLRI

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Pengungkapan kasus narkoba di Indonesia tidak lepas dari peran sosok Komisaris Besar Pol. Drs. Siswandi. KASUBDIT II – DITTIPIDNARKOBA BARESKRIM POLRI ini bahkan mendapat gelar sebagai “spesialis West Afrika” karena banyaknya pengedar narkoba yang tertangkap –hidup atau mati- berkat kejeliannya. Belakangan, ia juga berperan besar dalam membongkar jaringan pengedar narkoba internasional dari Iran.

Maraknya peredaran narkoba di Indonesia karena negeri ini merupakan “surga” bagi sindikat peredaran narkoba. Jumlah penduduk yang hampir mencapai seperempat miliar adalah pangsa pasar yang sangat potensial. Banyaknya pintu gerbang masuk ke wilayah negeri kepulauan ini –baik jalur udara maupun laut- memudahkan “kurir” narkoba untuk menembusnya.

Di sisi lain, keramahtamahan bangsa Indonesia yang dijunjung tinggi sebagai budaya ketimuran, justru menjadi bumerang. Sindikat narkoba internasional memanfaatkan budaya yang dianggap bernilai tinggi tersebut untuk kepentingan mereka. Akibatnya, sindikat narkoba asal Afrika Barat berhasil menyusup di tengah masyarakat dengan mudah.

Ketidakpedulian serupa juga terjadi di hotel dan apartemen. Demi memberikan pelayanan terbaik dengan alasan “privasi”, pengelola hotel dan apartemen menutup mata terhadap apapun yang dilakukan pelanggan. Asalkan mendatangkan pemasukan bagi usahanya, pengelola hotel tidak peduli. Apakah satu kamar diisi lima atau tujuh orang, yang penting memiliki jaminan berupa paspor (kebanyakan tidak jelas). Demikian juga yang terjadi di apartemen-apartemen dengan alasan yang sama, privasi penghuni.

Untuk itu, semua komponen bangsa harus terlibat dan bertanggung jawab dalam pemberantasan sindikat narkoba. Mengingat bahaya narkoba bagi generasi muda sangat buruk pengaruhnya. Jangan sampai, terjadi “lost generation” akibat sepak terjang sindikat narkoba internasional di Indonesia.

Saat ini, telah terjalin kerjasama yang erat antar instansi dalam pemberantasan narkoba. Semua institusi yang menjadi garda terdepan dalam jalur keluar masuk perdagangan dari dan ke Indonesia menjalin kerjasama dengan Polri dan BNN sebagai dua lembaga yang memiliki kewenangan represif dalam penanggulangan peredaran narkoba. Semua itu sebagai wujud pertanggungjawaban terhadap ancaman masa depan bangsa akibat maraknya narkoba.

Banyaknya kasus narkoba di Indonesia tidak lepas dari peran aktif Polri dalam mengungkapkannya. Bisa dikatakan, apabila semua polisi “tidur” tidak akan ada kasus narkoba di Indonesia. Karena kepolisian aktif, maka banyak sekali kasus narkoba terjadi di Indonesia. Kondisi tersebut harus diimbangi dan diikuti dengan pembinaan moral dari pihak keluarga. Karena pengguna narkoba adalah rakyat Indonesia yang menjadi tanggung jawab keluarga.

Sebagai orang yang kenyang pengalaman di dunia pernarkobaan, Kombes Siswandi mengharapkan dukungan pemerintah bersama DPR. Selain mendukung dalam pemberantasan narkoba, ia berharap agar diberikan peralatan yang memadai bagi jajarannya. Selain itu, ia mengusulkan agar setiap petugas di lapangan mendapat lindungan asuransi karena tugas yang dilakukan nyawa sebagai taruhan. Artinya, setiap petugas juga memiliki risiko yang besar terhadap tanggung jawab kelangsungan keluarga.

Meskipun demikian, Kombes Siswandi yakin, semua perbuatan kejahatan meninggalkan jejak, tinggal bagaimana kemampuan petugas kepolisian untuk mengungkapkannya. Karena semua orang tidak ada yang sempurna, apalagi dilakukan dalam kondisi berbuat jahat. Motto suami Renita Siswandi ini adalah ‘Jiwa besar adalah salah satu modal keberhasilan. Tiada yang datang terlalu cepat, tiada yang pergi terlalu lambat semua datang dan pergi pada waktunya’. Sementara filosofi hidup ayah satu putra ini berbunyi “jabatan adalah amanah, tugas adalah ibadah dan rezeki adalah barakah”.

Kombes Siswandi menyatakan bahwa terjadinya penyalahgunaan narkoba terkait adanya tiga indikasi:
1. Faktor individu, moralitas, dan lain-lain
2. Faktor lingkungan
3. Faktor ketersediaan narkoba
Di mana, tugas yang dibebankan kepada institusi Polri adalah pemberantasan terhadap penyalagunaan narkoba. Tugas itu, telah dilaksanakan Kombes Siswandi hampir sepanjang riwayat kariernya di Kepolisian.

Dedikasinya yang tinggi terhadap tugas dan pekerjaan, membuat Kombes Siswandi banyak menelurkan prestasi dalam pemberantasan kejahatan narkoba. Anugerah tanda jasa SL Kesetiaan 8 Tahun dan SL Kesetiaan 16 Tahun serta beberapa penghargaan dari berbagai lembaga tersemat di pundaknya. Selama 24 tahun berkarier di kepolisian, berbagai penugasan di dalam maupun luar negeri sering diembannya. Penugasan ke luar negeri, misalnya ke China, Hong Kong, Filipina, Jepang, Thailand, Malaysia, Kamboja, Korea Selatan, Perancis, Belanda dan negara-negara lainnya.

Atas dedikasi, prestasi dan pencapaian bagi pemberantasan narkoba di Indonesia, penghargaan Indonesian Creativity Award Kategori “The Best Leader” dipersembahkan kepada Kombes Pol. Drs. Siswandi, KASUBDIT II – DITTIPIDNARKOBA BARESKRIM POLRI. Selamat dan sukses….”say no to drugs”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s