Pasangan Suami – Istri Yang Bermanfaat Bagi Orang Banyak

Ungkapan ada orang kuat dibalik kesuksesan seseorang, pasti sudah sering kita dengar. Yakni orang -bisa istri atau suami dari tokoh sukses- yang mendukung dalam setiap gerak langkah, mengawal, menyemangati pasangannya menuju puncak tangga tertinggi kesuksesan. Chemistry yang menyatu antara visi dan misi pasangan, membuat langkah-langkahnya lebih mudah (atau dimudahkan) dalam menapaki jalan kehidupan. Selalu tercipta solusi ketika menghadapi problem berkat ikatan kokoh, komitmen dan keinginan menjunjung tinggi nilai-nilai pernikahan. Tidak percaya? Simak kisah perjuangan pasangan yang saling mengasihi, mendukung dan mencintai dalam memberikan manfaat bagi masyarakat banyak, berikut ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

HM Encep Komarudin, MPd
Ketua Yayasan Kamilul Awwabin Sepatan, Tangerang

Bersama Istri Membangun dan Membesarkan Yayasan Kamilul Awwabin

Perjalanan panjang lembaga pendidikan yang berdiri sejak tahun 1976 ini layak dicermati. Berawal dari keprihatinan pendirinya yang merasa kesulitan memperoleh pendidikan, ia mengajak beberapa rekan dan tokoh masyarakat sekitar untuk mendirikan pondok pesantren. Awalnya, hanya Madrasah Tsanawiyah dengan 56 siswa yang terus berkembang dan besar seperti sekarang.

“Setelah salah seorang lulusan berhasil masuk SMA I Tangerang yang merupakan sekolah favorit, animo masyarakat sekitar berubah. Karena saat itu, yang dari SMP Negeri di dekat sini juga hanya satu yang diterima di sana. Artinya, secara kualitas Tsanawiyah Sepatan Kamilul Awwabin tidak kalah dengan SMP Negeri. Wah ternyata, kerjaan Pak Encep bisa juga yaa, begitu masyarakat bilang,” kata HM Encep Komarudin, MPd., Ketua Yayasan Kamilul Awwabin Sepatan, Tangerang.

Sejak itu, lanjut Abah Encep, yayasan mulai kewalahan menerima murid. Masyarakat yang semula “ogah-ogahan” menyekolahkan anaknya, berbondong-bondong mengirimkan anak-anaknya ke sekolah. Tidak heran, yayasan yang baru berdiri saat itu tidak mampu menampung siswa yang membludak. Terpaksa, yayasan meminjam gedung sekolah dasar untuk menampung kemauan orang tua yang ingin melihat anaknya sekolah di Awwabin.

Tidak hanya berhenti di Tsanawiyah, Abah Encep berusaha memenuhi keinginan masyarakat Sepatan dan sekitarnya. Tahun 1994, Taman Kanak-kanak Awwabin mulai menerima siswa baru. Hingga saat ini, lembaga pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Kamilul Awwabin terdiri atas, Raudlatul Athfal (TK), Madrasah Diniyah Awaliyah, SDIT, MTs, Madrasah Aliyah, Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi. Semua lembaga pendidikan yang berada dibawah Yayasan Kamilul Awwabin memungut biaya yang sangat rendah. Bahkan, sejak berdiri hingga sekarang, Tsanawiyah tetap gratis SPP-nya.

“Saya bergelut di sini bersama istri. Kami saling mendukung, karena dia tahu bagaimana jerih payah seorang guru. Karena saat itu saya bukan guru PNS, masih honorer di mana-mana sehingga dari segi pendapatan ya kecil. Tetapi dia tabah dan berkat dukungan istri, saya tegar berjuang membantu masyarakat Sepatan di bidang pendidikan,” tegas suami Nurlela dengan delapan anak ini.

Berkat dukungan sang istri pula, sambil mengelola yayasan Abah Encep berhasil menyelesaikan pendidikannya sendiri. Gelar MPd (S2) dari Uhamka Jakarta berhasil diraih pria asli Sepatan, kelahiran 13 November 1949 ini. Bersama istri, ia memiliki komitmen untuk terus mengabdikan diri di dunia pendidikan. Khususnya wilayah Sepatan, yang mana dunia pendidikan sangat diperlukan masyarakat. Ia mencontohkan, jauh sebelum tahun ajaran 2011/2012 dimulai, dua kelas yang tersedia di SDIT Kamilul Awwabin sudah terisi penuh.

Abah Encep berharap, agar apa yang dilakukannya menjadi gambaran bagi orang lain. Yakni bagaimana bersama-sama membangun negara ini, jangan sampai jerih payah para pejuang bangsa yang mendirikan Indonesia disia-siakan. Tugas sebagai generasi sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan baik, membangun masa depan bangsa yang gemilang. Salah satunya adalah dengan membangun SDM Indonesia yang handal melalui pendidikan.

“Mungkin kakek atau moyang kita membantu mendirikan negara yang sama-sama kita cintai ini. Nah, tugas kita ini sekarang adalah mengisi kemerdekaan, karena hasil keringat dan darah orang tua kita, jangan dibiarkan begitu saja. Indonesia yang bagus, kaya raya harus dikelola dengan baik, sehingga rakyat menjadi sejahtera. Kita harus berpikir apa yang telah kita berikan untuk negeri ini, untuk memajukan negeri ini. Insya Allah kalau sudah memiliki prinsip seperti itu akan ‘rapih’ negeri ini,” ujarnya.

Membantu Pemerintah

Menurut Abah Encep, pendidikan di Indonesia memiliki system yang cukup bagus. Tinggal menyiapkan SDM yang tepat untuk mengaplikasikan system yang sangat bagus tersebut. Ia menganjurkan untuk melakukan penyegaran-penyegaran bagi para pendidik dan orang-orang yang berkutat dalam dunia pendidikan di tanah air.

“Perlu peningkatan SDM, agar mereka bisa bekerja dengan sebaik-baiknya untuk membangun negeri ini. Kita bisa mencontoh Malaysia, negara kecil yang dahulu mendatangkan guru-guru dari Indonesia. Sekarang terbalik, kita banyak mengirimkan pelajar ke sana. Sedangkan Yayasan Kamilul Awwabin membantu pemerintah, karena lulusan kita banyak diperlukan,” tuturnya.

Abah Encep mengakui, peran pemerintah dalam kemajuan yayasan ini sangat besar. Salah satunya adalah dengan dikeluarkannya izin pendirian yayasan sehingga bisa berkarya secara legal. Pemerintah juga memberikan bantuan berupa dana pendidikan (BOS) serta tenaga pengajar berstatus PNS.

Ia berharap, pemerintah mempunyai perhatian yang lebih mendalam terhadap permasalahan pendidikan yang dihadapi bangsa ini. Kepemilikan atas system pendidikan nasional yang bagus bukan jaminan pendidikan maju. Karena selama system pendidikan nasional tidak dijalankan dengan baik, system tersebut tetap hanya sebuah system saja.

“Makanya mari kita sama-sama jalankan dan rapihkan. Contoh, menurut UU anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, ya harus 20 persen disalurkan dengan baik dan benar. Kalau sudah begitu, Insya Allah pendidikan Indonesia akan maju. Makanya masalah pendidikan harus disikapi secara baik seluruh elemen bangsa ini. Bukan hanya legislative, yudikatif atau eksekutif, tetapi semua harus melaksanakan system pendidikan dengan baik dan benar,” tegas penerima Satya Lencana Karya Satya dari Presiden Megawati tahun 2003 ini.

Menghadapi era globalisasi, Yayasan Kamilul Awwabin yang dipimpin Abah Encep mempersiapkan diri dengan baik. Sekolah yang dipimpinnya pun terus mengikuti perkembangan dan kemajuan zaman. Bahkan, untuk lingkungan Sepatan dan sekitarnya, sekolah-sekolah Awwabin memberikan materi yang belum diberikan di sekolah lain. Ia mencontohkan anak-anak Aliyah (SLTA) Awwabin memperoleh pelajaran otomotif bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja.

“Baru di sekolah kita ini di Sepatan, yang diajarkan sinematografi. Sekarang sudah disusun kurikulum broadcast, agar anak-anak memiliki skill sebagai penyiar TV atau radio. Saya mohon doa dari masyarakat agar kita bisa membentuk pribadi yang berguna bagi nusa dan bangsa. Kita tidak mencari pekerjaan tetapi menciptakan pekerjaan. Insya Allah Indonesia negara yang subur makmur, kalau kita sudah sepakat satu visi dan misi, kita bisa menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi,” tandasnya.

Selain itu, lanjut Abah Encep, siswa yang belajar di sekolah Yayasan Kamilul Awwabin dilatih untuk memelihara ikan lele. Mengingat di masa lalu, perkembangan sekolah tidak lepas dari usaha peternakan. Di mana pada awal pendiriannya, yayasan dibesarkan dengan memelihara itik untuk membeli peralatan sekolah seperti meja, bangku dan lemari. Hingga sekarang, setelah 35 tahun berjalan yayasan semakin berkembang tanpa melupakan cita-cita awalnya.

“Saya ingin membantu masyarakat di bidang pendidikan. Saya ingin, agar masyarakat bisa kuliah dan menjadi sarjana. Mereka nanti pulang kampung untuk mengembangkan lagi kampungnya. Saya bermimpi ingin mengumpulkan anak-anak bangsa dari 33 provinsi. Mereka sekolah gratis dan pulang untuk membangun daerah masing-masing. Itu mimpi dan obsesi saya yang belum terwujud. Karena dengan pendidikan insya Allah negeri ini akan berkembang dengan baik. Kalau semua warga negara saleh dan salehah, ia akan bertanggung jawab kepada keluarga, masyarakat, bangsa dan negara,” tegasnya.

Kesempurnaan Taubat

Sejarah Yayasan Kamilul Awwabin tidak bisa dilepaskan dari leluhur HM Encep Komarudin. Adalah H Sanusi dan Siti Khadijah –orang tua Abah Encep- yang meletakkan pondasi pendirian Pondok Pesantren (Pontren) Kamilul Awwabin pada tahun 1930-an. Awalnya, hanya berupa pengajian non formal yang seiring dengan perjuangan keduanya berkembang pesat seperti sekarang. Setelah 46 tahun, perjuangan H Sanusi dan Siti Khadijah dilanjutkan oleh Abah Encep.

“Alhamdulilah dengan penuh kesabaran dan kesungguhan hati, bersama istri saya bisa melanjutkan cita-cita untuk menciptakan lembaga pendidikan yang lebih besar lagi. Saya justru ingin mendirikan perguruan tinggi untuk membantu masyarakat terutama golongan ekonomi lemah. Mereka, anak-anak bangsa yang berhak mengenyam pendidikan tinggi seperti saudara-saudaranya yang lain. Saya bersyukur, Alhamdulilah bekerja sama dengan teman-teman mulai merintis merger untuk membuka perguruan tinggi,” katanya.

Abah Encep bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kelimpahan kepada yayasan. Di mana yayasan mampu mengelola sekolah dengan biaya murah tanpa harus melupakan pendapatan para guru dan karyawan. Karena mereka juga memiliki keluarga yang harus dibiayai sementara bekerja di yayasan adalah sumber pendapatan utama.

Namun, Abah Encep menerangkan bahwa penggajian di yayasan menganut system PGA atau Pengaturan Gaji Allah. Penggajian Gaji Allah adalah sumbangan masyarakat dan donatur yang sifatnya tidak mengikat. Yayasan menerima bantuan sukarela dari berbagai pihak yang dimanfaatkan untuk membuka kesempatan belajar seluas-luasnya bagi anak bangsa.

“Alhamdulilah karyawan dan teman-teman yang mengajar di sini bersyukur atas apa yang telah diterima. Meskipun kecil, mereka semua memiliki motor, rumah dan lain-lain. Bisa untuk berkeluarga menikah dan lain-lain, karena semua itu barokah,” kata Abah Ecep yang mendidik ke-8 anaknya dengan penuh kesabaran ini.

Bahkan, tidak pernah sekalipun ia membentak anak meskipun berbuat salah. Bagi Abah Encep, mengkomunikasikan hal yang benar adalah kunci dalam mendidik. “Alhamdulilah, semua anak saya menempuh pendidikan yang baik sampai perguruan tinggi. Semua sekarang sudah lulus S1, dan empat orang sedang melajutkan pendidikan ke jenjang pendidikan S2, satu orang sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan S3. Mereka sebagian besar menjadi pendidik,” imbuhnya.

Dengan terus mengembangkan Yayasan Kamilul Awwabin, HM Encep Komarudin, MPd berharap agar mampu mencetak lebih banyak lagi insan yang takwa dan bermanfaat bagi sekitarnya. Sesuai namanya, Kamilul Awwabin berarti tobat yang sempurna sehingga diharapkan mereka benar-benar menjadi pribadi yang bersih dalam menapaki kehidupan. “Awabin itu tobat, kamil itu sempurna. Jadi tobat yang sempurna, jangan setengah—setengah kalau tobat. Intinya, tobat secara sempurna untuk menyejahterakan anak bangsa ini,” tambahnya.

Penamaan Kamilul Awwabin, kisahnya, merupakan warisan pendiri yayasan, H Sanusi. Di mana awal dari pendirian masjid yang dibangun bersama-sama masyarakat sekitarnya. Saat pemberian nama masjid, tercetuslah nama Awwabin, dengan harapan orang-orang yang masuk masjid adalah orang-orang yang benar.

Abah Encep kemudian memberikan tambahan satu kata di depannya, yang berasal dari doa kamilin saat Ramadhan. Idenya berasal dari kisah kelahiran kakek dari ibu kandungnya Abah H Encep yang bertepatan pada saat dibacakan doa tersebut. Kedua kata tersebut kemudian digabungkan menjadi Kamilul Awwabin sebagai nama yayasan. “Artinya tobat yang sempurna. Mudah-mudahan diterima masyarakat, pendidikan yang lain daripada yang lain ini,” cetusnya.

Mengenai sikap generasi muda, Abah Encep memahami kenapa mereka menyukai segala hal yang serba instant. Perubahan zaman menjadi penyebab kenapa generasi muda memilih bersikap seperti itu. Mereka terbawa oleh kemajuan teknologi yang membentuk kehidupannya. Bisa dibayangkan, dengan teknologi yang sangat diakrabi membuat hidup mereka berjalan dengan sangat cepat. Mau tidak mau, generasi muda harus berusaha mengimbanginya kalau tidak ingin ketinggalan.

“Kenapa mereka ingin instan, karena di zaman sekarang ini tidak lagi menuntut banyak berpikir. Mungkin ini pengaruh zaman globalisasi dan lingkungan. Misalnya kalau dahulu yang paling cepat telegram, sekarang cukup SMS saja. Tetapi insya Allah tidak semuanya seperti itu, masih banyak yang menyadari bahwa harus bekerja keras dan sungguh-sungguh dalam segala hal termasuk pendidikan. Semua harus dicapai dengan penuh pengorbanan, Insya Allah dari pendidikan orang tua, anak-anak bisa kita bentuk karakternya. Dengan memberikan arahan yang benar. Dan yang paling perlu adalah penambahan akhlak dan budi pekerti yakni Akhlakul Karimah,” kata HM Encep Komarudin, MPd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s