Hotel Bersistem Syariah

Sistem keuangan syariah (dan hal-hal “berbau” syariah lainnya) di Indonesia memang relatif baru. Adopsi sistem keuangan yang bernafaskan Islami ini penerapannya termasuk “lamban” bagi negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam ini. Namun, beberapa pengecualian tentu selalu ada. Seperti tokoh perhotelan Banten, Ir. Kusdinar Machmud, Chairman PT Pondok Layung Aditama yang telah mendirikan hotel berbasis syariah sejak tahun 90-an. Bagaimana kisahnya, berikut ini tulisan lengkap tentang tokoh kreatif tersebut….

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ir. H Kusdinar Machmud
Chairman PT Pondok Layung Aditama

Membangun Hotel dengan Sistem Syariah

Biasanya, lokasi wisata tidak pernah lepas dari hiburan malam. Bahkan lokasi wisata bisa dibilang surga bagi para pencari kenikmatan duniawi. Beragam sarana hiburan, mulai klub malam, diskotik, pub dan lain-lain menawarkan kesenangan.

Riuh rendah suasana hiburan, biasanya ditingkahi peredaran barang-barang yang diharamkan dalam Islam. Mulai minuman keras, narkoba sampai perempuan penghibur banyak ditawarkan di lokasi wisata. Semua berbaur menjadi satu kesatuan dalam balutan industri wisata dan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan bagi pengelolanya.

Namun tidak semua pemilik bisnis di lokasi wisata “memanfaatkan” situasi tersebut. Salah satunya adalah Ir. H Kusdinar Machmud, Chairman PT Pondok Layung Aditama. Pemilik Pondok Layung Resort Anyer, Banten ini, memilih untuk menjalankan usahanya secara syariah. Ciri yang menonjol pada hotel syariah antara lain tidak menyediakan makanan yang mengandung babi maupun minuman yang mengandung khamar, tidak ada diskotek, tidak ada layanan jasa pijat dan melakukan seleksi tamu.

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa daerah wisata dan industri sangat dekat dengan dunia prostitusi dan hiburan malam, sementara tamu-tamu dan keluarga yang hanya ingin menikmati lokasi wisata atau berlibur bersama keluarga tidak menyenangi hal itu. Nah, kita menyediakan hotel/resort syariah, artinya tidak ada bar, minuman, diskotek dan sebagainya,” katanya.

Ternyata menjadi kenyataan hotel/resort syariah mempunyai pasar sendiri yang cukup baik, sehingga tingkat hunian cukup menggembirakan melebihi hotel lainnya

Kekhawatiran yang ditunjukkan oleh beberapa manajer saat menerima tugas mengelola resort syariah gugur dengan sendirinya. Hotel dengan system syariah satu-satunya di Anyer yang menggabungkan antara out bond dan wisata pantai ini, tidak pernah sepi tamu. Bahkan, untuk libur panjang seperti liburan sekolah, Lebaran atau tahun baru, para tamu harus memesan dalam jangka panjang sebelumnya.

“Alhamdulilah ternyata memang pasarnya ada, ketakutan segmen pasar kita menjadi sangat terbatas. Ternyata dengan membidik pasar tanpa hal-hal negative justru tingkat hunian kita sangat bagus. Karena ini, ternyata bukan hanya sebatas orang muslim saja. Non muslim pun ternyata banyak yang menginginkan suasana tenang tanpa gangguan, sehingga bisa istirahat bersama keluarga,” katanya.

Suasana penuh ketenangan, dilengkapi out bond dan ruang pertemuan, membuat Pondok Layung menjadi langganan berbagai instansi. Yakni untuk keperluan training karyawannya, beberapa bank menggunakan layanan yang disediakan resort tersebut. Bahkan, setiap bulan Pondok Layung dijadikan tempat training beberapa Bank, Rumah Sakit dan kantor lainnya.

Gunung dan Pantai

Kepemilikan Ir. H Kusdinar Machmud terhadap Pondok Layung Aditama Resort, berawal dari sebuah kebetulan. Setelah lulus dari Teknik Sipil ITB tahun 1968, ia bekerja di PT Pertamina. Karena ia, yang mendapat beasiswa dari PT Shell/BPM dan selanjutnya menjadi mahasiswa Ikatan Dinas Pertamina.

Sebagai engineer muda, Pada Tahun 1970 Kusdinar ditugaskan untuk mencari lokasi peristirahatan bagi karyawan Pertamina. Khususnya karyawan ekspatriat yang saat liburan tiba biasanya mereka berbondong-bondong meninggalkan Indonesia. Direktur Utama Pertamina saat itu, Ibnu Sutowo mempunyai gagasan untuk menyediakan lokasi wisata di Indonesia.

“Saat itu industri perminyakan sedang booming, jadi Pertamina banyak bekerja sama dengan perusahaan asing. Pekerja asing yang ditugaskan di sini biasanya membawa keluarga. Daripada mereka keluar negeri saat liburan, mendingan dibuatkan tempat berlibur bagi mereka. Saya ditugaskan untuk melihat kemungkinan tempat istirahat yang tidak jauh dari Jakarta,” ungkapnya.

Kusdinar langsung terpikir ke arah barat pantai pulau Jawa. Tempat di mana saat masih mahasiswa di tahun 63an pernah diminta untuk mempelajari kemungkinan pembangunan jembatan Selat Sunda. Sejak melakukan survey, ia menjadi sangat mengenal kondisi pantai-pantai di Selat Sunda. Pilihannya jatuh ke arah Anyer/Carita, karena mempunyai lokasi pantai yang sangat indah.

Setelah lokasi disetujui, lanjutnya, tahun 1971 dimulailah pembangunan hotel yang akhirnya bernama Anyer Beach Motel Pertamina. Selama membangun proyek tersebut, Kusdinar banyak memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Ia sering mendapat tawaran dari masyarakat yang menjual tanah untuk pergi haji atau keperluan lainnya.

“Saat itu tanah masih sangat murah, karena infrastruktur tidak memadai. Jalan Warisan Tuan Daendels hanya selebar tiga meter dan sulit melihat pantai saking rimbunnya semak. Jadi harganya sangat murah karena orang tidak tertarik membeli. Bersama teman, saya ‘terpaksa’ membeli tanah dari masyarakat untuk berbagai kebutuhan mereka,” ujarnya.

Setelah cottage Pertamina selesai dibangun, banyak investor yang tertarik berinvestasi dan membuka bisnis yang sama. Ternyata lokasi hasil survey Kusdinar dan dibangun hotel Pertamina merupakan pantai terbaik, Karena pantai Selat Sunda pada umumnya banyak karang tetapi di lokasi sepanjang 3 kilometer tempat hotel Pertamina berpasir indah tanpa karang.

Setelah selesai membangun Anyer Beach Motel Pertamina, Kusdinar melanjutkan kariernya. Ia membiarkan tanah seluas satu hektar yang dibelinya dengan harga Rp162 per m2 tersebut ditumbuhi ilalang dan semak belukar. Lima belas tahun kemudian, ia baru berpikir untuk memanfaatkan tanah yang sudah dibelinya sebagai persiapan kegiatan setelah pensiun. Dengan bantuan seorang temannya yang arsitek, ia menyusun masterplan untuk membangun tempat peristirahatan.

“Itu akan saya jadikan lahan usaha, lahan beraktifitas dan ladang amal kelak di masa pensiun. Hukum ekonomi semasa di sekolah dimana dengan modal sekecil kecilnya mendapat untung sebesar besarnya tidak berlaku dalam ekonomi syariah. Saya berangan angan untuk membuat tempat berlibur yang menggabungkan wisata laut dan wisata gunung; pantai dan out bound sebagai tempat family gathering dan pelatihan manajemen. Tujuan bisnisnya agar bermanfaat bagi orang banyak untuk mendapatkan keberkahan” ujarnya.

Dari masterplan yang sudah disusun, awal 1990 Kusdinar mulai membangun proyek secara bertahap. Dengan uang yang dimilikinya ia membangun villa yang pertama, dengan lokasi terdekat dari bibir pantai. Saat pembangunan hampir mendekati 80 persen, seorang ekspatriat dari Kawasan Industri Cilegon yang menyukai olahraga pantai berniat menyewa villa yang sedang dibangunnya.

Kusdinar hampir tidak percaya, ketika seluruh persyaratan yang diajukan untuk sewa-menyewa tersebut disetujui. Karena untuk ukuran saat itu, harga sewa villa yang belum jadi sebesar US$ 1500 per bulan cukup mahal, seperti harga sewa di Jakarta. Bahkan, uang sewa yang harus dibayar di muka untuk penyewaan dua tahun pun diamini oleh bule ekspatriat tersebut.

“Akhirnya dari uang sewa tersebut dengan pola yang sama, saya bisa membangun lima cottage. Setelah berjalan empat tahun saya bersama istri memutuskan untuk tidak memperpanjang urusan sewa menyewa dengan bule itu. Soalnya, sebagai muslim, kita ingin mendapat uang untuk menghidupi keluarga dari pemasukan-pemasukan yang halal. Sementara bule itu yang tinggal bersama anak dan istrinya tidak sesuai dengan ajaran agama. Jadi meskipun mereka sangat kecewa, tetapi kami tetap pada keputusan untuk menghentikannya,” tegasnya.

Kusdinar mengisahkan, saat liburan Natal dan mereka pulang kampung, vilanya menjadi sarang maksiat. Yaitu, saat istri dan anak-anaknya pulang terlebih dahulu untuk persiapan Natal, ayahnya mengadakan pesta-pesta sepanjang hari. Tidak hanya minuman, namun juga menghadirkan perempuan penghibur sebelum ia menyusul keluarganya menjelang Natal.

Sejak itu, sang istri, Helina Nursehati, SSos turun langsung menangani villa. Rumahnya di Jakarta dialihfungsikan sebagai kantor pemasaran yang menangani order villa. Meskipun dikelola sangat konservatif dan tidak profesional, tetapi karena memiliki keindahan pantai yang luar biasa, tidak kesulitan mencari pelanggan.

“Pemasaran dari mulut ke mulut, teman-teman pengajian ibu, teman sekolah, dengan berbagai tawaran menarik semua dihandle sendiri. Karena memang baru sedikit, hanya lima villa sehingga bisa dikelola secara kekeluargaan. Pada saat menjelang pensiun, maka saya langsung menanganinya. Saya membangun berbagai fasilitas yang diperlukan termasuk hotel sehingga harus dikelola secara professional,” ungkapnya.

Untuk memajukan bisnis, Kusdinar menerapkan managemen profesional. Salah satu langkah yang ditempuhnya adalah dengan menyatukan visi dan misi antara seluruh karyawan. Karena menurut pandangannya, ketika terjadi kesamaan visi dan misi dari seluruh karyawan serta pemilik, akselerasi kemajuan bisnis akan semakin meningkat.

Latar belakang pendidikan karyawan yang sebagian besar lulusan perhotelan, membuat Kusdinar tidak khawatir tentang kemampuan mereka. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk melakukan training menyamakan visi dan misi dengan sentuhan spiritual dan emosional karyawan. Tujuannya adalah dengan terpeliharanya spiritual dan emosional, mereka dapat melayani tamu dengan baik dalam kondisi apapun.

Langkah awal adalah dengan mengirimkan seluruh manager dan dirinya sendiri selaku owner untuk belajar di Pesantren Daarut Tauhid dan ESQ Leadership Center. Selama beberapa waktu, karyawan mendapat gemblengan untuk mengelola perusahaan dengan baik.

“Kita mengikuti pelatihan-pelatihan emosional dan spiritual. Setelah itu akhirnya semua sejalan, sehingga kita tidak ragu untuk melepaskan mereka bekerja tanpa rasa khawatir. Kita tinggal menjalankan fungsi kontrol saja, tak lebih. Setelah itu, kita kemudian mendeklarasikan bahwa resort dan hotel kita adalah syariah. Dalam arti Hotel dari segi administrasi, keuangan dan operasional berusaha berjalan dalam koridor syariah,” tegas pria yang biasa disapa Pak Haji Kus ini.

Terus Berinovasi

Ir. H Kusdinar Machmud menyadari bahwa bisnis wisata di Pantai Anyer sangat berbeda dengan pariwisata Bali. Di Pulau Dewata, arus wisatawan terus menerus sepanjang tahun. Tidak peduli musim liburan, week end atau week days, wisatawan selalu datang berduyun-duyun. Pesona wisata Bali memang luar biasa sehingga mampu mendatangkan wisatawan sepanjang musim.

“Sedangkan kita ini hanya berharap week end saja, sehingga sangat terbatas. Apalagi banyak kompetitor di Pantai Anyer yang memperebutkan pangsa pasar yang sama. Makanya saya selalu berpikir, bahwa kita harus penuh inovasi untuk mengundang pelanggan tertarik berlibur ke sini, yang antara lain melalui promosi dan marketing,” ujarnya.

Sadar akan hal itu, Kusdinar menerapkan kiat-kiat agar pelanggan tertarik untuk datang ke hotelnya. Selain membenahi pelayanan dan menata lingkungan, ia juga mengembangkan pemasaran ke arah corporate, lembaga pemerintah, sekolah dan lain-lain. Pembangunan sarana out bond yang lengkap sangat membantu program tersebut sehingga kegiatan di luar week end pun cukup padat di hotelnya.

“Dengan terus berinovasi seperti itu, pelanggan kita harus booking jauh hari untuk mengadakan acara di sini. Mereka akhirnya menjadi pelanggan tetap di sini. Itu cukup menggambarkan bahwa apa yang kita laksanakan ternyata mencapai kepuasan pelanggan,” kata pria kelahiran Garut, 7 Agustus 1941 ini.

Selain sarana outbond Lembah Hijau Bandulu, Kusdinar juga membangun Kampung Wisata Anyer. Wisata ini menggabungkan kegiatan wisata kuliner dengan kesenian tradisional seperti angklung, calung, debus dan sebagainya serta berbagai outdoor activity.

“Kita oleh PHRI ditugasi untuk menjadikan Anyer sebagai tujuan wisata. Makanya di Kampung Wisata saya menghimpun beberapa pengusaha yang sama-sama mengembangkan hobi, seperti saya. Nanti akan ada nursery, taman anggrek, penangkaran kupu-kupu, membuat gerabah dan lain-lain. Nantinya akan kita buat miniature budaya Banten, seperti rumah-rumah Banten, kerajinan tangan, pembuat emping dan sebagainya,” tegasnya.

Anak ke-2 dari enam bersaudara pasangan A Machmud dan Hj St Rukmanah ini merasa bersyukur pemerintah mulai memperhatikan infrastruktur di Banten. Sesuai saran-saran yang sering diungkapkan Kusdinar, bahwa untuk memajukan wisata Banten masalah infrastruktur harus menjadi prioritas. “Karena infrastruktur tidak bisa dibebankan kepada investor,” tegas ayah tiga anak ini.

Ir. H Kusdinar Machmud sekarang di usia 70 tahun lebih banyak melakukan aktivitas dalam rangka quality control. Ia sudah menyerahkan tampuk pimpinan usahanya kepada generasi penerus yang terdiri dari tenaga-tenaga muda potensial yang di nakhodai oleh putra keduanya yaitu Fazar Maulana, SE, MBA bidang Finance dari Michigan University. Ia memilih memposisikan sebagai creative navigator, pemberi inspirasi, motivator dan mentor saja. Kegiatan-kegiatan sosial dalam bidang pendidikan digelutinya sebagai tambahan “modal” untuk menghadap Sang Khalik. Sedangkan, urusan pengelolaan perusahaan diserahkan kepada generasi muda yang lebih kreatif dan progresif.

“Dukungan keluarga saya sangat luar biasa, terutama dari istri, Helina Nursehati, Ssos yang menjabat Dirut Perusahaan. Karena sejak usia pernikahan masih sangat muda, saya sudah tanamkan bahwa dia harus siap menjadi janda. Maut kan tidak bisa ditebak datangnya, dia bukan dari keluarga pengusaha. Karena ayah mertua saya seorang ambtenaar di Depdagri hasil didikan Belanda yang serba teratur. Jadi harus disiapkan untuk mandiri,” katanya.

Upayanya berhasil, saat pendirian Pondok Layung –layung artinya lembayung atau semburat jingga di langit sore- istrinya mengelola bisnis tersebut. Tidak tanggung-tanggung, saat ini sang istri bahkan mampu memimpin 40-an SDM yang bekerja di sana. Seiring perkembangan waktu, usaha yang berkembang pesat tersebut telah melibatkan sekitar 100 orang SDM.

Saat ini keluarga Kusdinar dikaruniai tiga orang anak, anak pertama Ir. Ashari Adithiawarman, MBA berkarier di Citibank, anak kedua Fazar Maulana, SE, MBA mengelola perusahaan keluarga dan Rachmi Mardiah Damayanti yang suami nya Yusuf Sungkar, SE berkarier di perbankan juga. Dari ketiga anaknya keluarga Kusdinar telah dikaruniai delapan orang cucu.

Mengakhiri perbincangan dengan PPBI, Ir. H Kusdinar Machmud berpesan kepada generasi muda. Agar mereka tidak boleh terlalu cepat puas dan harus belajar dan menuntut ilmu semaksimal mungkin. Karena persaingain ke depan sangat ketat seiring terjadinya era globalisasi dunia. Selain itu, generasi muda harus mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Esa, karena Dia-lah yang menentukan segalanya.

“Tentu setelah kita berjuang sekuat tenaga, hasilnya kita serahkan kepada Allah. Setelah itu, apa yang kita dapat, harus dapat bermanfaat bagi banyak orang sehingga semuanya menjadi keberkahan. Oleh karena itu, kita harus memiliki daya juang tinggi untuk mencapai pendidikan maksimal dan kemudian memiliki daya pikir yang inovatif dan setelah itu hasil berupa rizki yang Allah berikan kepada kita harus berbagi dengan lingkungan. Itu saja……….,” pungkas Ir. H Kusdinar Machmud.

“Kesuksesan yang sebenarnya adalah saat hidup kita menjadi bermanfaat bagi orang banyak dan, kehidupan kita seimbang untuk urusan dunia dan akhirat kelak.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s